KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Unit usaha syariah (UUS) PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) membukukan laba Rp 68,31 miliar sepanjang tahun 2025. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, angka tersebut susut 16,85% secara tahuanan (year-on-year/yoy) dari posisi Rp 82,15 miliar. Mengutip laporan publikasi perseroan, penurunan laba tersebut salah satunya disebabkan oleh meningkatnya beban kerugian penurunan nilai aset (impairment) 120,84% menjadi Rp 30,73 miliar dari posisi sebelumnya Rp 13,91 miliar. Di samping itu, secara keseluruhan OCBC NISP Syariah juga mencatatkan peningkatan beban operasional lainnya secara bersih menebal 5,64% menjadi Rp 231,59 mliar pada tahun 2025.
Namun demikian, secara top line bank diketahui membukukan kinerja positif. Pendapatan operasional dari penyaluran dana OCBC NISP Syariah meningkat 12,95% yoy menjadi Rp 1,08 triliun dari posisi sebelumnya Rp 956 miliar. UUS OCBC juga mencatat pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp5,7 triliun susut 6,23% dari 2024 yang sebesar Rp 6,04 triliun, di mana mayoritas dana yang disalurkan digunakan untuk pembiayaan rumah atau KPR iB, yang mencakup 52% dari total pembiayaan, sementara 48% lainnya dialokasikan untuk pembiayaan produktif. Kepala Unit Usaha Syariah OCBC, Mahendra Koesumawardhana mengatakan bahwa pembiayaan konsumer, khususnya sektor perumahan, menjadi perhatian utama perseroan. Sekitar 52% portofolio pembiayaan OCBC Syariah saat ini masih terkonsentrasi pada sektor properti atau mortgage.
Baca Juga: OCBC Targetkan Kredit Tumbuh Double Digit di Tahun 2026 Menurutnya, sejak 2023 hingga 2025, efek lanjutan pandemi masih terasa dan berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat, termasuk kelompok pekerja bergaji tetap (salaried worker) yang selama ini mendominasi pembiayaan perumahan. Kondisi tersebut membuat perbankan perlu lebih waspada dalam menjaga kualitas pembiayaan. Meski demikian, ia menyebut kualitas pembiayaan OCBC Syariah relatif terjaga. Hingga akhir 2025, Financing to Deposit Ratio (FDR) tercatat masih di bawah 60%–70%, sehingga dinilai masih dalam batas aman. "Ke depan, OCBC Syariah berupaya memperbaiki kinerja pembiayaan pada 2026 dengan strategi yang lebih selektif serta fokus pada segmen yang dinilai memiliki kualitas risiko lebih baik. Langkah ini diharapkan dapat menjaga kualitas aset sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis yang lebih sehat," kata Mahendra di Jakarta, Jumat (13/2/2026). Per 31 Desember 2025, Dana Pihak Ketiga (DPK) UUS OCBC tumbuh 27% secara tahunan (YoY) menjadi Rp10,9 triliun, sementara total aset meningkat 20% YoY menjadi Rp13,2 triliun. “Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan solusi keuangan syariah yang mudah diakses, selaras dengan prinsip syariah, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi nasabah dan Masyarakat," tambah Mahendra.
Baca Juga: Perluas Pasar, Great Eastern Gandeng OCBC Hadirkan Produk Travel Insurance GEGI Salah satu highlight sepanjang 2025 adalah penguatan Tabungan Emas. Hingga Desember 2025, jumlah nasabah tabungan emas tumbuh sebesar 223% YoY. Sedangkan dari sisi volume, total gramasi emas yang dikelola juga mengalami peningkatan menjadi 771,2 kg atau tumbuh 506% YoY. Di tahun 2026 pihaknya juga tetap melihat prospek positif. Hal ini karena pasar perbankan syariah memiliki karakteristik segmen yang cukup spesifik sehingga peluang pertumbuhan masih terbuka. OCBC Syariah juga berencana memperkuat ekspansi ke segmen komersial dan enterprise banking. Bank juga mengandalkan akad pembiayaan syariah yang dinilai memiliki keunikan dibandingkan pembiayaan konvensional. Menurut Mahendra, skema akad tersebut memungkinkan pembiayaan berbasis aset yang tidak langsung tercatat sebagai kepemilikan nasabah, sehingga dapat membantu fleksibilitas arus kas sekaligus mendukung perencanaan keuangan nasabah. "Ke depan, perseroan menargetkan penguatan pembiayaan di sektor komersial sebagai salah satu motor pertumbuhan baru, seiring upaya menjaga stabilitas bisnis dan kualitas portofolio pembiayaan di tengah dinamika regulasi serta kondisi ekonomi," imbuhnya.
Baca Juga: Bank OCBC NISP Perkirakan Rasio BOPO Tetap Rerjaga pada Kisaran 70% Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News