PARIS. Ekonomi global nampaknya masih sulit lepas dari ancaman krisis. Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi alias Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pun memangkas pertumbuhan ekonomi dunia untuk kali kedua dalam tiga bulan terakhir. Proyeksi terbaru OECD, ekonomi dunia akan tumbuh 2,9% tahun ini dan 3,3% di tahun depan. Angka ini lebih rendah dari prediksi OECD pada September 2015 lalu yang meramalkan ekonomi global tumbuh 3% pada tahun ini dan 3,6% di tahun 2016. "Prospek pertumbuhan global mendung tahun ini," tulis laporan organisasi yang berkantor pusat di Paris, Prancis seperti dikutip Bloomberg.
Kelesuan aktivitas ekonomi di negara berkembang menjalar ke negara-negara maju seperti Jerman dan Jepang. OECD melihat sumber ketidakpastian ekonomi global berasal dari krisis Rusia, Brasil serta perlambatan ekonomi China. "Banyak negara terutama negara berkembang menghadapi tantangan keuangan serta prospek lemah untuk ekspor mereka," sebut OECD. Angka pertumbuhan ekonomi China masih tetap pada perkiraan semula yakni 6,8% di tahun ini dan 6,5% pada 2016. Namun, ekonomi Brasil menyusut menjadi 3,1% di tahun ini dan 1,2% pada tahun berikutnya. Di bulan September 2015, OECD memprediksi kontraksi ekonomi Brasil di 2015 hanya 2,8% dan tahun depan 0,7%. OECD juga menyebutkan, produk domestik bruto (PDB) Rusia bakal turun 4% di tahun 2015. Pada 2016, PDB Rusia turun 0,4%. Pada proyeksi sebelumnya, OECD memperkirakan ekonomi Negara Beruang Merah tersebut akan turun 3,1% di tahun ini. Sedangkan, pada tahun 2016, ekonomi Rusia berpeluang tumbuh 0,8%. Negara maju Sementara itu, OECD melihat pertumbuhan PDB Jepang masih tetap stagnan. Tahun ini, ekonomi Jepang tidak berubah dari prediksi sebelumnya yakni tumbuh 0,6%. Namun, untuk tahun 2016, PDB Jepang direvisi dari tumbuh 1,2% menjadi tumbuh 1%. "Prospek untuk Jepang lebih tipis daripada negara maju lainnya meski ada pertumbuhan upah riil," jelas OECD.
Di negara maju lainnya seperti kawasan Eropa, pertumbuhan ekonomi terbantu oleh kedatangan para imigran. Dari perhitungan OECD, masuknya pengungsi dapat menambah pertumbuhan ekonomi antara 0,1% hingga 0,2% di tahun 2016 dan 2017 berkat belanja ekstra pemerintah. Di tahun ini, OECD melihat ekonomi kawasan euro akan bertumbuh sekitar 1,5% dan sebesar 1,8% di tahun depan. Angka ini turun 0,1% dari prediksi sebelumnya. "Pencari suaka tidak membuat beban ekonomi tidak terkendali. Jika mereka cepat berintegrasi ke dalam masyarakat Eropa akan menguntungkan tuan rumah," tambah OECD. Lalu, pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat (AS) tetap berada di jalurnya yakni 2,4% pada tahun ini dan 2,5% di 2016 yang ditopang oleh belanja rumah tangga.