KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi, merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,2%, dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,7% dalam laporan OECD Economic Outlook edisi Juni 2026. Dalam laporan bertajuk OECD Economic Outlook Interim Report September 2026, revisi tersebut menunjukkan peningkatan proyeksi sebesar 0,5 poin persentase. OECD juga merivisi naik proyeksi ekonomi Indonesia 2027 menjadi 5,1% dari laporan Juni sebelumnya yang diprediksi hanya 5%. Meskipun angka tersebut sedikit melambat dari proyeksi pertumbuhan 2026. Proyeksi ekonomi Indonesia tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan mencapai 2,9% pada 2026 dan 3,0% pada 2027. Proyeksi pertumbuhan global 2026 tetap dipertahankan, sementara proyeksi 2027 direvisi turun dari 3,1% dalam laporan Juni menjadi 3,0%. Baca Juga: Data Bank Indonesia: 518 dari 546 Pemda Sudah Terdigitalisasi OECD menilai perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah perlambatan ekonomi global dan berbagai tekanan, termasuk kenaikan harga energi serta ketidakpastian perdagangan internasional. Dalam laporan tersebut, OECD menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 didukung oleh permintaan domestik yang tangguh, termasuk konsumsi rumah tangga, serta kebijakan pemerintah yang membantu melindungi rumah tangga dan perusahaan dari dampak kenaikan harga energi. “Pertumbuhan Indonesia diproyeksikan relatif stabil, sebesar 5,2% pada 2026 dan 5,1% pada 2027, dengan perbaikan terms of trade mendukung peningkatan investasi,” tulis OECD dalam laporan tersebut. OECD mencatat, ketahanan permintaan domestik menjadi salah satu faktor yang membuat ekonomi Indonesia tetap tumbuh di tengah berbagai guncangan global. Selain Indonesia, permintaan domestik yang kuat juga menopang pertumbuhan sejumlah negara berkembang G20 seperti India dan Brasil. Di sisi lain, aktivitas perdagangan juga masih memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi. OECD melihat perdagangan barang global mulai pulih setelah terdampak konflik di Timur Tengah, sementara aktivitas perdagangan yang berkaitan dengan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) turut menopang perdagangan di kawasan Asia.
OECD Kerek Proyeksi Ekonomi RI 2026 Jadi 5,2%, Ini Faktor Pendorongnya
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi, merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,2%, dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,7% dalam laporan OECD Economic Outlook edisi Juni 2026. Dalam laporan bertajuk OECD Economic Outlook Interim Report September 2026, revisi tersebut menunjukkan peningkatan proyeksi sebesar 0,5 poin persentase. OECD juga merivisi naik proyeksi ekonomi Indonesia 2027 menjadi 5,1% dari laporan Juni sebelumnya yang diprediksi hanya 5%. Meskipun angka tersebut sedikit melambat dari proyeksi pertumbuhan 2026. Proyeksi ekonomi Indonesia tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan mencapai 2,9% pada 2026 dan 3,0% pada 2027. Proyeksi pertumbuhan global 2026 tetap dipertahankan, sementara proyeksi 2027 direvisi turun dari 3,1% dalam laporan Juni menjadi 3,0%. Baca Juga: Data Bank Indonesia: 518 dari 546 Pemda Sudah Terdigitalisasi OECD menilai perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah perlambatan ekonomi global dan berbagai tekanan, termasuk kenaikan harga energi serta ketidakpastian perdagangan internasional. Dalam laporan tersebut, OECD menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 didukung oleh permintaan domestik yang tangguh, termasuk konsumsi rumah tangga, serta kebijakan pemerintah yang membantu melindungi rumah tangga dan perusahaan dari dampak kenaikan harga energi. “Pertumbuhan Indonesia diproyeksikan relatif stabil, sebesar 5,2% pada 2026 dan 5,1% pada 2027, dengan perbaikan terms of trade mendukung peningkatan investasi,” tulis OECD dalam laporan tersebut. OECD mencatat, ketahanan permintaan domestik menjadi salah satu faktor yang membuat ekonomi Indonesia tetap tumbuh di tengah berbagai guncangan global. Selain Indonesia, permintaan domestik yang kuat juga menopang pertumbuhan sejumlah negara berkembang G20 seperti India dan Brasil. Di sisi lain, aktivitas perdagangan juga masih memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi. OECD melihat perdagangan barang global mulai pulih setelah terdampak konflik di Timur Tengah, sementara aktivitas perdagangan yang berkaitan dengan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) turut menopang perdagangan di kawasan Asia.