OECD Nilai Risiko Stagflasi Akibat Konflik Iran Masih Terbatas



KONTAN.CO.ID - Organisation Economic Cooperation and Development (OECD) menilai, risiko terjadinya stagflasi global akibat konflik Iran belum menjadi skenario utama.

Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann menyatakan, kondisi ekonomi saat ini berbeda dengan krisis stagflasi yang terjadi pada 1970-an.

Baca Juga: Korea Selatan–Vietnam Perkuat Kerja Sama, Puluhan Kesepakatan Bisnis Siap Diteken


“Kami tidak melihat risiko stagflasi sebagai skenario dasar,” ujar Cormann dalam forum ekonomi di Delphi, Kamis (23/4/2026).

Ia menjelaskan, tekanan inflasi saat ini lebih banyak dipicu oleh guncangan pasokan energi, bukan oleh permintaan yang meluas di seluruh sektor ekonomi.

Menurutnya, meski konflik geopolitik mendorong kenaikan harga energi, ekonomi global masih memiliki sejumlah fondasi yang cukup kuat untuk menahan dampak tersebut.

Baca Juga: Robinhood Kantongi Izin Prinsip di Singapura, Siap Perluas Layanan Broker di Asia

Sebagai informasi, stagflasi merupakan kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melambat atau stagnan, sementara inflasi dan tingkat pengangguran tetap tinggi secara bersamaan.