OECD pangkas ramalan ekonomi global 2013-2014



PARIS. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) meramal pertumbuhan global akan menurun tahun ini dan tahun depan. Namun, OECD berpendapat, perlambatan ekonomi ini bukan kesalahan Eropa. Menurut OECD, perlambatan pada negara-negara emerging dan adanya potensi krisis anggaran lanjutan AS menjadi dua hal yang dicemaskan bagi perekonomian global. Pada prediksi pertengahan tahun ini, OECD menurunkan prediksinya untuk pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 2,7% dan 3,6% pada tahun depan. Sebelumnya, pada Mei lalu, OECD memprediksikan pertumbuhan 3,1% tahun ini dan 4% tahun depan. Menurut Angel Gurria, Sekretaris Jendral OECD, saat 17 negara Eropa mulai bangkit dari krisis utangnya, negara-negara di bagian lain dunia mulai mengalami perlambatan pertumbuhan. Emerging market yang belakangan menjadi tulang punggung ekonomi global, saat ini mulai goyah. Sebagian alasannya disebabkan kecemasan bahwa pertumbuhan ekonomi AS akan mengakhiri masa kredit murah. "BRIICS (Brazil, Rusia, India, Indonesia, China, dan Afrika Selatan) menjadi mesin terbesar penggerak pertumbuhan ekonomi global. Saat ini perekonomian mereka mulai melambat," papar Gurria. Di antara BRIICS tersebut, misalnya, Indonesia memangkas laju pertumbuhannya menjadi 5,2% tahun ini dan 5,6% tahun depan. Pada Mei, OECD memprediksi pertumbuhan Indonesia akan berada di level 6% untuk tahun ini dan tahun depan. Sementara di India, proyeksi pertumbuhan tahun ini sudah diturunkan dari 5,7% menjadi 3,4%.

OECD juga menggarisbawahi akan dampak dari perdebatan anggaran AS. Seperti yang diketahui, masalah anggaran dan kenaikan batasan utang AS selalu menjadi perdebatan sengit di Kongres AS. "Perdebatan sengit mengenai kebijakan fiskal di AS masih menjadi kunci dari risiko dan ketidakpastian ekonomi global," ujar Pier Carlo Padoan, OECD's chief economist.