KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bisnis
buy now pay later (BNPL) di industri perbankan terus menunjukkan arah pertumbuhan positif di awal tahun ini. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga Januari 2026, baki kredit BNPL perbankan mencapai Rp 27,1 triliun. Angka ini mencerminkan pertumbuhan 20,15% secara tahunan, melanjutkan pertumbuhan 19,32% yoy pada akhir tahun lalu. Porsi baki kredit BNPL saat ini, setara dengan 0,32% kredit industri.
Memang, kredit perbankan juga berhasil menunjukkan tren positif dalam periode ini. Yang mana, jumlahnya mencapai Rp 8.557 triliun atau tumbuh 9,96%. Level pertumbuhan tersebut lebih tinggi ketimbang pertumbuhan 9,63% pada bulan sebelumnya.
Baca Juga: Pansel Rilis Hasil Seleksi Administrasi Calon Pengganti Anggota DK OJK, Ini Daftarnya Sejalan dengan itu, jumlah rekening BNPL bank juga tumbuh positif. Per Januari 2026 jumlahnya mencapai 31,23 juta rekening, naik dari posisi 31,21 juta rekening pada Desember 2025. Dari segi kualitas kredit, rasio kredit bermasalah (
non performing loan/NPL) juga terjaga, yang mana NPL
gross sebesar 2,14% dan NPL
net sebesar 0,82%, masing-masing naik tipis dari posisi 2,05% dan 0,79% pada Desember 2025. Pun, kredit berisiko (
Loan at Risk/LaR) tercatat sebesar 9,01%, naik dari posisi 8,77%.
Kendati begitu, dari sisi permodalan, industri perbankan mencatatkan rasio kecukupan modal (CAR) berada di level solid 25,87%. Pun, likuiditas bank terjaga dengan rasio alat likuid AL/NCD turun menjadi 121,23% dari posisi 126,15% dan AL/DPK menjadi 27,54% dari 28,57% pada akhir tahun lalu.
Baca Juga: OJK Beri Sanksi kepada 17 Multifinance dan 22 Fintech Lending pada Februari 2026 Sementara dari dana pihak ketiga (DPK), angkanya tumbuh 13,48% yoy menjadi Rp 10.076 triliun. Untuk diketahui, tahun ini OJK menargetkan pertumbuhan kredit dan DPK masing-masing di level 10%–12% dan 7%–9%. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News