OJK: El Nino Berpotensi Tekan Kualitas Kredit Perbankan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan industri perbankan untuk mewaspadai dampak fenomena El Nino terhadap kualitas aset dan kinerja perbankan. 

Pasalnya, risiko iklim ini berpotensi menekan kemampuan bayar debitur pada sejumlah sektor ekonomi yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae bilang risiko iklim, termasuk El Nino, telah menjadi salah satu fokus pengaturan dan pengembangan OJK karena berpotensi memengaruhi kualitas aset, profitabilitas, likuiditas, hingga permodalan bank.


"Risiko iklim seperti El Nino memberikan dampak paling langsung kepada sektor ekonomi yang sangat bergantung pada kondisi cuaca, seperti pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, serta industri makanan dan minuman," ujar Dian dalam jawaban tertulisnya, dikutip Kamis (25/6/2026).

Dian menjelaskan, kemarau ekstrem yang dipicu El Nino dapat menurunkan produktivitas sektor-sektor tersebut sehingga berdampak pada pendapatan debitur. Kondisi ini pada akhirnya berpotensi menurunkan kemampuan membayar pinjaman dan meningkatkan risiko kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).

Baca Juga: Risiko Tinggi, Perbankan Lebih Berhati-hati Salurkan Kredit Channeling

Terkait itu, ia melihat bank yang memiliki konsentrasi pembiayaan tinggi pada sektor maupun wilayah yang rentan terhadap risiko iklim berpotensi menghadapi penurunan kualitas aset yang lebih besar dibandingkan bank dengan portofolio kredit yang lebih terdiversifikasi.

"Risiko ini termasuk dalam kategori physical climate risk yang perlu dimitigasi oleh industri perbankan," sebut Dian.

Meski demikian, Dian memastikan kondisi permodalan industri perbankan saat ini masih cukup kuat untuk menghadapi berbagai risiko yang muncul akibat perubahan iklim.

Pun, merujuk hasil Climate Risk and Banking Resilience Assessment (CBRA) yang dipublikasikan pada awal 2026, secara agregat industri perbankan Indonesia masih memiliki tingkat permodalan yang memadai. 

Dian bilang itu tercermin dari rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang masih tinggi sehingga dapat berfungsi sebagai bantalan untuk menyerap potensi kerugian.

Baca Juga: Kredit Perbankan Tembus Rp 8.759 Triliun pada Mei 2026, Tumbuh 10,8% YoY

Namun demikian, OJK mengingatkan bahwa dampak risiko fisik akibat perubahan iklim dapat menjadi serius bagi perekonomian apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Karena itu, OJK mendorong perbankan mulai mengintegrasikan risiko iklim ke dalam strategi bisnis dan proses pengambilan keputusan. Salah satunya melalui penyusunan rencana transisi yang mempertimbangkan potensi dampak perubahan iklim terhadap portofolio bisnis bank.

Selain itu, perbankan juga didorong untuk meningkatkan pembiayaan ke sektor-sektor ramah lingkungan dan mengembangkan produk keuangan berbasis keberlanjutan sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko jangka panjang.

Untuk mendukung langkah tersebut, OJK telah menyusun kerangka Climate Risk Management & Scenario Analysis (CRMS) yang dapat digunakan bank untuk mengukur dampak risiko iklim terhadap bisnis mereka. 

Baca Juga: Waspada, Likuiditas yang Ketat di Semester II-2026 Berpotensi Menghambat Laju Kredit

OJK juga terus mendorong pelaksanaan stress test risiko iklim secara bertahap guna mengukur ketahanan industri perbankan terhadap berbagai skenario perubahan iklim.

Yang mana, hasil stress test tersebut dapat menjadi fondasi bagi perbankan dalam menyusun rencana transisi yang realistis dan terukur sekaligus memperkuat ketahanan industri menghadapi risiko iklim di masa mendatang.

Asal tahu saja, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino bakal bertahan hingga awal tahun 2027 mendatang. Meski begitu, fenomena ini disebut hanya bakal memberi dampak langsung bagi wilayah Indonesia sepanjang musim kemarau hingga Oktober 2026. 

“BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli–September 2026. Seluruh masyarakat diharapkan mengambil tindakan antisipasi guna menekan risiko kerugian akibat El Nino 2026,” tulis BMKG dalam akun media sosial Instagram resminya.

Baca Juga: Kredit Konstruksi Masih Tumbuh Tinggi, Tapi Perbankan Perlu Waspada Kenaikan NPL

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News