OJK Nilai Pembangunan 5.000 Kampung Nelayan Peluang bagi Industri Asuransi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto menargetkan membangun 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) hingga 2029.

Mengenai hal itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai program pembangunan kampung nelayan berpotensi menjadi peluang bagi industri asuransi. 

"Pada prinsipnya, industri asuransi siap mendukung berbagai program pembangunan pemerintah dengan menyediakan solusi perlindungan risiko bagi masyarakat," ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono dalam lembar jawaban RDK OJK, Selasa (17/3/2026).


Dalam konteks itu, Ogi menyampaikan asuransi dapat berperan sebagai pengelola risiko yang memberikan perlindungan terhadap berbagai aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk sektor kelautan dan perikanan. 

Baca Juga: OJK: SBN Masih Jadi Primadona Investasi Industri Asuransi

Dengan demikian, dia berharap keberadaan asuransi dapat mendukung keberlanjutan usaha masyarakat, serta meningkatkan ketahanan ekonomi para pelaku usaha nelayan.

Sementara itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan pembangunan 1.000 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di berbagai wilayah Indonesia pada 2026.

Program itu digulirkan untuk memperkuat infrastruktur perikanan, sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menjelaskan target tersebut meningkat tajam dibandingkan pembangunan pada 2025 yang mencapai 100 kampung nelayan. 

Menurut Trenggono, sebagian besar proyek tahun lalu sudah hampir rampung dan mulai dimanfaatkan oleh masyarakat. Dia menjelaskan, dari 100 lokasi yang dibangun pada 2025, sebagian besar sudah selesai. Saat ini masih tersisa sekitar 35 titik yang masih dalam tahap pembangunan.

Baca Juga: OJK Sebut Mudik Lebaran Jadi Peluang Dongkrak Asuransi Perjalanan

Pada 2026, Trenggono menyebut perluasan skala program dengan pembangunan 1.000 kampung nelayan secara serentak diarahkan terutama ke wilayah Indonesia Timur yang memiliki potensi kelautan besar, tetapi masih membutuhkan dukungan infrastruktur untuk meningkatkan produktivitas nelayan.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News