OJK Optimistis Aset Industri Dana Pensiun Tumbuh 10%-12% di Tahun 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan aset industri dana pensiun tumbuh 10%–12% secara Year on Year (YoY) pada 2026.

Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono optimistis industri bisa mencapai angka tersebut pada 2026.

"Hal itu dinilai cukup realistis, mengingat aset dana pensiun telah tumbuh sekitar 11,01% secara Year on Year (YoY) per Desember 2025," ungkapnya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Selasa (17/3/2026).


Ke depan, Ogi mengatakan industri dana pensiun dapat mendorong pertumbuhan aset melalui penguatan tata kelola, optimalisasi investasi, serta perluasan kepesertaan program dana pensiun.

Baca Juga: Meningkat, Rata-Rata Nilai Klaim Kesehatan Perorangan di Asuransi Jiwa Rp 54,61 Juta

Sementara itu, Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) menilai terbuka peluang industri dana pensiun bisa mencapai angka proyeksi pertumbuhan yang dicanangkan OJK tersebut. Humas ADPI Syarifudin Yunus menerangkan terbukanya peluang itu berlandaskan data secara historis, yang mana dalam 3 tahun terakhir aset dana pensiun memang terus bertumbuh.

"Oleh karena itu, sangat realistis bisa tumbuh dua digit pada 2026. Apalagi, jika kondisi ekonomi tetap stabil dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pensiun meningkat," ungkapnya kepada Kontan.

Meski demikian, Syarifudin mengatakan industri dana pensiun tentu perlu menerapkan strategi dan berkolaborasi untuk mencapai pertumbuhan aset 10%-12% pada 2026. Dia bilang industri memerlukan strategi yang tepat, konsisten, dan sinergis untuk meningkatkan kepesertaan baru dana pensiun, termasuk sektor informal.

"Selain itu, perlu juga melakukan edukasi yang masif, hasil investasi yang optimal, serta membangun kepercayaan publik dan tata kelola yang kuat," tuturnya.

Syarifudin tak memungkiri terdapat tantangan yang bisa memengaruhi pertumbuhan aset dana pensiun, yaitu jumlah peserta yang pensiun lebih banyak daripada peserta baru. Ditambah, adanya volatilitas pasar investasi juga bisa memengaruhi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News