KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dorongan dari adanya transformasi digital menempatkan digital banking pada dua sisi. Perkembangan digital memberikan peluang sekaligus tantangan bagi bank maupun bagi masyarakat, di samping meningkatkan inklusi keuangan. “Bank dapat meningkatkan efisiensi, profitabilitas, inklusivitas, dan eksistensi bisnis. Masyarakat dapat menikmati layanan perbankan yang personalized, yang dapat diakses di manapun kapanpun, dengan aman dan nyaman yang terhubung dengan ekosistem lainnya,” ujar Direktur Penelitian Bank Umum Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mohamad Miftah, dalam konferensi virtual pada Jumat (20/8). Dirinya bilang, terdapat tantangan dari digital banking yang meliputi isu perlindungan dan pertukaran data pribadi nasabah yang belum dijamin undang-undang, risiko kebocoran data nasabah, risiko strategis di mana investasi IT yang tidak sesuai strategi bisnis, risiko penyalahgunaan teknologi, risiko serangan siber, risiko pihak ketiga, dan risiko kurangnya kesiapan organisasi dalam mendukung transformasi digital, kebutuhan infrastruktur jaringan komunikasi, dan perlu adanya regulatory framework yang mendukung.
OJK paparkan tantangan sekaligus peluang akselerasi transformasi digital perbankan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dorongan dari adanya transformasi digital menempatkan digital banking pada dua sisi. Perkembangan digital memberikan peluang sekaligus tantangan bagi bank maupun bagi masyarakat, di samping meningkatkan inklusi keuangan. “Bank dapat meningkatkan efisiensi, profitabilitas, inklusivitas, dan eksistensi bisnis. Masyarakat dapat menikmati layanan perbankan yang personalized, yang dapat diakses di manapun kapanpun, dengan aman dan nyaman yang terhubung dengan ekosistem lainnya,” ujar Direktur Penelitian Bank Umum Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mohamad Miftah, dalam konferensi virtual pada Jumat (20/8). Dirinya bilang, terdapat tantangan dari digital banking yang meliputi isu perlindungan dan pertukaran data pribadi nasabah yang belum dijamin undang-undang, risiko kebocoran data nasabah, risiko strategis di mana investasi IT yang tidak sesuai strategi bisnis, risiko penyalahgunaan teknologi, risiko serangan siber, risiko pihak ketiga, dan risiko kurangnya kesiapan organisasi dalam mendukung transformasi digital, kebutuhan infrastruktur jaringan komunikasi, dan perlu adanya regulatory framework yang mendukung.