OJK: Pelemahan Rupiah Berpotensi Pengaruhi Kinerja Pembiayaan Kendaraan Multifinance



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren pelemahan nilai tukar Rupiah mulai menjadi perhatian bagi industri multifinance. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai depresiasi Rupiah berpotensi memengaruhi kinerja perusahaan pembiayaan, khususnya terkait permintaan pembiayaan kendaraan bermotor akibat penyesuaian harga kendaraan yang masih memiliki kandungan impor.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, menegaskan pentingnya langkah antisipatif dari perusahaan pembiayaan agar stabilitas bisnis tetap terjaga.

"Upayanya, yakni memperkuat manajemen risiko, menjaga prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan, serta menyesuaikan strategi bisnis secara adaptif agar tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas pembiayaan," katanya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Kamis (7/5/2026).


Menurut Agusman, pelemahan Rupiah tidak hanya berdampak terhadap harga kendaraan, tetapi juga dapat memengaruhi profil risiko perusahaan pembiayaan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menekan kemampuan bayar debitur, terutama di tengah kenaikan harga barang dan biaya hidup.

Baca Juga: OJK Sebut Proses Perizinan LKM Inkubasi Masih Berlangsung Bertahap

"Dengan demikian, perlu diantisipasi melalui penguatan monitoring dan mitigasi risiko," ucap Agusman.

Di sisi lain, OJK mencatat kinerja pembiayaan kendaraan roda empat masih mengalami tekanan hingga Maret 2026. Penyaluran pembiayaan kendaraan bermotor roda empat baru tercatat sebesar Rp 146,56 triliun.

"Nilainya terkontraksi 3,17% secara Year on Year (YoY)," ungkapnya.

Sementara itu, pembiayaan kendaraan roda empat bekas juga mengalami penurunan. OJK mencatat nilai pembiayaan mobil bekas mencapai Rp 86,73 triliun per Maret 2026 atau terkontraksi 7,67% secara tahunan.

Baca Juga: Premi Reasuransi Banyak Lari ke Luar Negeri, AAUI Minta Industri Perkuat Daya Tahan

Meski demikian, pembiayaan kendaraan roda empat baru masih menjadi kontributor terbesar dalam portofolio industri multifinance. Agusman menyebutkan segmen tersebut memiliki porsi sebesar 26,95% terhadap total outstanding industri multifinance per Maret 2026.

Ke depan, OJK memperkirakan pembiayaan otomotif masih akan menjadi salah satu motor pertumbuhan industri multifinance sepanjang tahun ini. Proyeksi tersebut didukung oleh kebutuhan masyarakat terhadap kendaraan serta peran strategis sektor otomotif dalam menopang aktivitas ekonomi nasional.

Adapun secara keseluruhan, piutang pembiayaan industri multifinance tercatat mencapai Rp 514,09 triliun per Maret 2026. Nilai tersebut tumbuh 0,61% secara year on year (YoY).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News