OJK Sebut Fundamental Perbankan Tetap Solid di Tengah Revisi Outlook Negatif



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan fundamental industri perbankan nasional tetap kuat meski sejumlah lembaga pemeringkat global merevisi outlook bank-bank besar Indonesia menjadi negatif.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menegaskan bahwa perubahan outlook tersebut tidak disebabkan oleh penurunan kinerja bank, melainkan dampak dari revisi outlook sovereign Indonesia.

“Revisi outlook lebih dipicu perubahan outlook peringkat kredit sovereign Indonesia dari stabil menjadi negatif, yang turut memengaruhi persepsi risiko terhadap sektor perbankan,” ujar Dian dalam keterangan resmi, Rabu (25/3/2026).


Baca Juga: Fitch Pangkas Outlook Bank BUMN, OJK Pastikan Fundamental Tetap Solid

Ia menambahkan, secara umum peringkat institusi di suatu negara memang cenderung mengikuti atau berada di bawah peringkat sovereign.

Di tengah sentimen tersebut, kinerja industri perbankan justru masih menunjukkan pertumbuhan positif. Per Januari 2026, kredit tumbuh 9,96% secara tahunan (year on year/yoy), sejalan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 13,48% yoy.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tetap terjaga di level 2,14%. Sementara itu, permodalan perbankan tercatat kuat dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 25,87%.

Likuiditas juga berada pada level yang memadai, tercermin dari rasio AL/NCD sebesar 121,23%, AL/DPK 27,54%, serta liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 197,92%, jauh di atas ambang batas.

Secara lebih spesifik, kelompok bank besar seperti KBMI 4 dan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mencatatkan pertumbuhan kredit dobel digit, masing-masing 13,34% dan 13,43% yoy.

Baca Juga: Tersengat Sentimen Revisi Outlook, Cek Rekomendasi Saham BMRI, BBRI,dan BBNI

Di sisi pendanaan, DPK kedua kelompok ini juga tumbuh masing-masing 16,32% dan 16,38% yoy. “Hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat tetap kuat dan kondisi likuiditas berada pada level yang sangat terjaga,” jelas Dian.

Dari sisi permodalan, CAR Himbara tercatat sebesar 20,32%, sedangkan KBMI 4 mencapai 22,33%, memberikan ruang ekspansi sekaligus bantalan terhadap risiko.

OJK juga menilai kualitas aset tetap terjaga, dengan rasio NPL gross berada di kisaran kurang dari 1% hingga 3%, serta loan at risk (LaR) yang terkendali dan didukung pencadangan yang memadai.

Di tengah ketidakpastian global, OJK menilai revisi outlook oleh lembaga pemeringkat tidak serta-merta berdampak pada kemampuan bank dalam mengakses pendanaan.

Saat ini, peringkat kredit bank-bank besar Indonesia masih berada pada level investment grade.

Baca Juga: Fitch Singgung Perluasan Mandat Bank Indonesia di Tengah Revisi Outlook Kredit Utang

Selain itu, struktur pendanaan perbankan nasional yang didominasi dana domestik dinilai membuat ketergantungan terhadap pendanaan eksternal relatif rendah.

“OJK memandang penyesuaian outlook ini bersifat sementara dan berpotensi kembali membaik seiring penguatan prospek ekonomi global dan domestik,” kata Dian.

Ke depan, OJK bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan terus menjaga stabilitas sektor keuangan melalui penguatan koordinasi kebijakan dan pengawasan perbankan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News