OJK: Tantangan UMKM Bukan Sekedar Pembiayaan, tapi Akses Pasar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak bisa hanya mengandalkan pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). Perlu pendekatan yang lebih menyeluruh, termasuk memperluas akses pasar dan integrasi ke rantai pasok perusahaan besar.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan pengembangan UMKM harus dilakukan secara holistik, mulai dari peningkatan literasi keuangan, pendampingan usaha, hingga penguatan kapasitas bisnis.

“OJK menilai bahwa penguatan UMKM memerlukan pendekatan holistik yang tidak hanya berfokus pada pembiayaan, tetapi juga literasi keuangan, pendampingan, serta perluasan akses pasar,” ujarnya dalam jawaban tertulis, dikutip Rabu (18/3/2026).


Dian juga menilai, salah satu persoalan utama UMKM adalah keterbatasan akses pasar, termasuk belum optimalnya keterhubungan dengan rantai pasok perusahaan besar, baik di dalam negeri maupun global.

Baca Juga: OJK Buka Suara soal Pertukaran Data RI-AS, Ini Dampaknya ke Perbankan

Untuk itu, regulator telah mendorong kolaborasi antara UMKM dan korporasi melalui beleid terbaru, yakni POJK Nomor 19 Tahun 2025. Aturan ini secara eksplisit mengatur penguatan ekosistem rantai pasok sekaligus membuka akses pembiayaan yang lebih inklusif bagi UMKM.

“OJK mendorong kolaborasi UMKM dengan perusahaan besar sebagai bagian dari ekosistem rantai pasok, sekaligus mewajibkan lembaga jasa keuangan menyediakan pembiayaan yang lebih mudah, cepat, dan terjangkau,” jelasnya.

Selain itu, OJK juga terus berkoordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga untuk meningkatkan konektivitas UMKM dengan sektor industri. Salah satu indikatornya terlihat dari tren pembiayaan berbasis rantai pasok (supply chain financing) yang terus meningkat.

Hal ini menunjukkan keterhubungan UMKM dengan perusahaan besar sebagai mitra usaha mulai menguat. Perbankan pun telah menyediakan berbagai skema pembiayaan yang mendukung UMKM yang masuk dalam rantai pasok.

Meski demikian, Dian menegaskan bahwa KUR tetap memiliki peran penting, khususnya bagi UMKM yang belum bankable atau belum memiliki rekam jejak kredit.

Baca Juga: Pasar Otomotif Menguat di Awal Tahun, Ini Efeknya bagi Multifinance

“OJK memandang KUR dan pembiayaan berbasis rantai pasok merupakan dua sisi mata uang yang saling melengkapi,” katanya.

KUR dinilai menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk membangun rekam jejak kredit, sebelum akhirnya dapat terintegrasi dalam ekosistem industri yang lebih luas.

Ke depan, OJK akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan industri jasa keuangan, termasuk mendorong inovasi pembiayaan berbasis rantai pasok serta memberikan dukungan insentif bagi perusahaan besar yang aktif membina UMKM.

Dian optimistis, dengan kolaborasi yang kuat antara regulator, pemerintah, dan pelaku usaha, ekosistem UMKM nasional akan semakin solid dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News