Okupansi KA Bandara masih rendah cuma 30%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kereta Api Bandara Soekarno Hatta (KA Bandara) yang dioperasikan PT Railink, masih harus menghadapi tantangan okupansi. Saat ini, okupansi KA Bandara masih sebesar 30%.

Humas Railink Diah Suryandari mengaku saat ini tingkat keterisian KA Bandara masih rendah. “Masih belum optimal,” katanya kepada Kontan.co.id, Kamis (4/10).

Kata Diah, salah satu tantangan railink adalah mengubah kebiasaan masyarakat yang menuju bandara yang awalnya menggunakan moda transportasi berbasis jalan raya, menjadi moda transportasi berbasis rel. “Untuk selesaikan itu, kami enggak bisa jalan sendiri, harus dilakukan bersama,” tambahnya.


Karenanya, integrasi antar moda sangat dibutuhkan Railink. Saat ini misalnya, KA Bandara Soekarno Hatta bersinggungan dengan commuter line di kawasan Dukuh Atas dan juga Skytrain milik Angkasa Pura II. Adapula integrasi dengan feeder bus yang mengantar penumpang dari Gambir dan Blok M menuju stasiun BNI City.

Agar okupansi bisa naik, integrasi itu perlu dilakukan dengan moda lain. Saat ini Railink sedang mengincar kerjasama dengan salah satu moda transportasi berbasis online. “Belum bisa disebutkan,” kata Diah.

Selain itu, ada dua program Railink untuk meningkatkan jumlah penumpang. Pertama, group booking. Strategi ini dengan memberikan tarif diskon bagi penumpang yang membeli tiket secara rombongan. “Misalnya tarif KA Bandara dari BNI City Rp 70.000, kalau pesan grup minimal tiga orang jadi Rp 60.000 per orang,” kata Diah.

Tarif diskon itu bakal semakin murah jika jumlah grup yang membooking tiket semakin banyak. Group booking juga berlaku hampir di seluruh stasiun tujuan bandara.

Kedua, penawaran tarif khusus yang kerap menggunakan KA Bandara secara rutin. Misalnya, bagi orang yang menggunakan KA Bandara delapan kali setiap bulan, ada potongan harga khusus per tripnya.

Hingga saat ini, Railink belum menargetkan berapa target okupansinya di akhir tahun. “Karena kami belum ada setahun masih observasi dulu,” tambah Diah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat