Okupansi Perkantoran Jakarta Terus Naik, CBRE Proyeksikan CBD Capai 80% pada 2030



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar properti perkantoran Jakarta menunjukkan tren pemulihan yang berlanjut pada kuartal II-2026. Hal ini tercermin dari kenaikan tingkat okupansi dan penyerapan ruang kantor di tengah minimnya pasokan baru, baik di kawasan CBD maupun non-CBD.

Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, Anton Sitorus mengatakan, karakter pasar perkantoran saat ini masih didominasi tren flight to quality, di mana penyewa semakin gencar mencari gedung premium grade dan grade A yang menawarkan spesifikasi modern, sustainability, dan fasilitas lebih baik. 

“Lalu efisiensi yang menjadi key-driver si tenant-tenant saat ini, untuk memanfaatkan diskon sewa yang dikasih pemilik gedung, untuk bisa upgrade dari kantor lama ke kantor baru, dengan biaya yang mungkin syukur-syukur bisa sama. Itu semua yang masih memberikan warna atau karakter dari kondisi pasar di perkantoran," ujar Anton, dalam media briefing, Rabu (22/7/2026) di Jakarta. 


Ia menambahkan, perusahaan juga semakin memilih konsep gedung kantor yang lebih fleksibel untuk mendukung efisiensi operasional, salah satunya melalui flexible workplace. 

Baca Juga: Ruang Kosong Perkantoran di Jakarta Capai 3 Juta Meter Persegi hingga Kuartal II-2026

Dengan konsep fleksibel, memungkinkan perusahaan menciptakan ruang kantor yang lebih compact, atau berukuran lebih kecil dari perkantoran pada umumnya. 

Selain itu, minimnya pembangunan gedung baru turut menopang perbaikan fundamental pasar.

Di kawasan CBD Jakarta, CBRE mencatat penyerapan bersih ruang kantor mencapai sekitar 16.800 meter persegi (m2) pada kuartal II-2026. Kinerja tersebut mendorong tingkat okupansi naik menjadi sekitar 76%.

Menurut Anton, tingkat okupansi kawasan CBD terus meningkat dalam empat tahun terakhir seiring penyerapan ruang kantor yang tetap positif dan pasokan baru yang sangat terbatas.

“Karena kenaikan itu tadi ya, karena penyerapan bersihnya masih di level positif, di sisi lain pasokan enggak banyak, bahkan sangat minim, pasokan baru maksudnya ya. Jadi we're in a good position now," ujarnya.

Perbaikan okupansi tersebut juga mulai mendorong kenaikan tarif sewa, terutama untuk gedung perkantoran premium dan Grade A.

Hingga kuartal II-2026, total stok ruang kantor CBD tercatat sekitar 7,1 juta m2, dengan ruang kosong sekitar 1,7 juta m2. Sementara rata-rata harga sewa berada di kisaran Rp 171.000 per m2 per bulan.

Dari sisi pengembangan, proyek baru di kawasan CBD masih sangat terbatas. Saat ini hanya terdapat dua proyek yang sedang berjalan, yakni Indonesia 1 dan Two Sudirman.

CBRE menilai, pengembang masih cenderung menahan pembangunan proyek baru karena pemulihan pasar dinilai belum sepenuhnya bersifat struktural.

“Kondisi pasar yang kemarin sempat agak turun, ini kenaikannya belum terlalu struktural, sehingga membuat orang-orang masih mungkin menahan dulu kalau kita mau bangun gedung-gedung baru," ujarnya.

Baca Juga: Pasar Perkantoran Mulai Menyala Berkat Permintaan Ruang dan Perpanjangan Masa Sewa

Ke depan, prospek pasar perkantoran CBD diperkirakan tetap positif. CBRE memproyeksikan tingkat okupansi kawasan ini dapat meningkat hingga sekitar 80% pada 2030.

Sementara itu, pasar perkantoran non-CBD juga mencatat tren positif, meski dengan laju yang lebih stabil dibandingkan CBD.

Pada kuartal II-2026, penyerapan ruang kantor di kawasan non-CBD mencapai sekitar 13.000 meter persegi, dengan tingkat okupansi berada di kisaran 73%.

Total pasokan ruang kantor non-CBD saat ini mencapai sekitar 3,5 juta meter persegi, dengan ruang kosong sekitar 900.000 meter persegi.

Berdasarkan wilayah, Jakarta Selatan masih menjadi kawasan dengan tingkat okupansi tertinggi. Kondisi tersebut juga tercermin dari tarif sewanya yang menjadi paling tinggi dibanding wilayah non-CBD lainnya.

“Jadi harga sewa untuk daerah Jakarta Selatan masih paling tinggi, disusul Jakarta Barat, lalu Jakarta Utara, setelah itu Jakarta Pusat, dan yang paling murah saat ini adalah di wilayah Jakarta Timur. Tapi kalau kembali lagi, itu pun juga hampir di semua wilayah harga sewa itu sudah mulai naik sedikit-sedikit," katanya.

Rata-rata harga sewa ruang kantor non-CBD saat ini berada di kisaran Rp 112.000 per meter2 per bulan. Sementara pasokan baru yang akan masuk ke pasar diperkirakan mencapai sekitar 120.000 meter persegi.

Ke depan, CBRE memperkirakan tingkat okupansi kawasan non-CBD akan meningkat secara bertahap hingga mencapai sekitar 75% pada 2030.

Pada 2026, pasokan baru diperkirakan masih sedikit lebih besar dibanding permintaan. Namun mulai 2027, tidak banyak pasokan baru yang masuk sehingga penyerapan bersih diproyeksikan kembali positif dan mendorong kenaikan tingkat hunian. Selanjutnya pada 2028, keseimbangan antara pasokan dan permintaan diperkirakan mulai tercapai.

“Tahun ini mungkin permintaannya sedikit lebih rendah dibanding supply yang akan masuk ke pasar. Tapi tahun depan, karena enggak ada supply yang masuk, kita perkirakan net take-up-nya positif sehingga akan mendorong tingkat hunian. Tahun depannya lagi, 2028, kita memperkirakan bahwa antara supply dan demand akan lebih seimbang," tutupnya.

Baca Juga: Cushman & Wakefield: Stok Perkantoran CBD Jakarta Tetap 7,4 Juta m² hingga Akhir 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News