Onduline Andalkan Strategi End-to-End Hadapi Persaingan Atap



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan bisnis material atap semakin beragam, seiring meningkatnya kebutuhan konstruksi dan renovasi. PT Onduline Indonesia mengandalkan strategi end-to-end untuk memperkuat posisi di pasar.

Country Director PT Onduline Indonesia Esther Panjaitan mengatakan, strategi perusahaan tidak hanya mengejar penjualan produk. Onduline juga memastikan proses pemasangan hingga pemberian garansi berjalan dengan baik.

“Strategi kita sebetulnya sederhana. Barang yang kita produksi bagaimana caranya kita perlu memastikan dipasang dengan tepat, diberikan garansi,” ujar Esther kepada KONTAN, Rabu (26/8/2026).


Baca Juga: Investasi PLTS Atap di Indonesia Tembus US$918 Juta, Ini Pemicunya

Onduline menyasar segmen pasar menengah atas melalui produk penutup atap berbahan bitumen. Produk tersebut memiliki bobot sekitar 4 kilogram (kg) per meter persegi.

Menurut Esther, bobot ringan menjadi salah satu keunggulan produk Onduline. Karakter tersebut membantu efisiensi logistik dan pemasangan, terutama untuk distribusi ke wilayah kepulauan.

Dari sisi kapasitas, Onduline memiliki fasilitas manufaktur di Pasuruan, Jawa Timur. Perusahaan menyebut kapasitas produksinya berada di kisaran 2 juta–3 juta meter persegi per tahun.

Esther mengatakan utilisasi produksi dalam enam bulan terakhir sudah mendekati penuh. Perusahaan bahkan mulai menjalankan tiga shift untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Baca Juga: Modena Luncurkan PLTS Atap untuk Dukung Transisi Energi Ancora Indonesia (OKAS)

“Utilitas kita enam bulan terakhir ini hampir full. Sekarang kita sudah mulai running tiga shift,” kata Esther. 

Menurut Esther, bisnis Onduline hingga Agustus 2026 tumbuh sekitar 70% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut turut ditopang meningkatnya penyerapan proyek pemerintah.

Adapun proyek pemerintah menyumbang sekitar 60%–70% dari produksi Onduline. Sementara sisanya berasal dari proyek swasta dan hunian.

Selain memperkuat kapasitas produksi, Onduline membuka peluang penambahan peralatan untuk meningkatkan kapasitas. Perusahaan juga akan memperkuat jaringan distribusi, terutama untuk menjangkau wilayah kepulauan.

Baca Juga: Ambisi Prabowo Bangun PLTS 100 GW, Aturan Kuota PLTS Atap Pelanggan Mesti Direvisi

Di sisi lain, perusahaan masih melihat ruang pertumbuhan dari pasar nonpemerintah. Porsi penjualan kepada konsumen akhir atau business-to-consumer (B2C) saat ini sekitar 10%–15% dari bisnis di luar proyek pemerintah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News