Ongkos Pengiriman Minyak Tembus US$ 30 per Barel, Ini Risiko bagi Indonesia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan biaya pengiriman dan asuransi minyak di tengah gangguan jalur perdagangan global menambah tantangan bagi ketahanan energi Indonesia.

Lonjakan ongkos logistik tersebut berpotensi meningkatkan biaya pengadaan minyak mentah maupun produk bahan bakar minyak (BBM) dari pasar internasional.

Pakar Pasar Energi dan Perdagangan Minyak Global sekaligus Head of Market Engagement EMEA & Asia Kpler, Matt Stanley mengatakan, dampak gangguan perdagangan minyak di Timur Tengah tidak hanya terlihat dari pergerakan harga minyak mentah, tetapi juga kenaikan biaya pengangkutan dan asuransi.


Baca Juga: OMDC Buka Cabang Baru, Hadirkan Konsep Supermarket di Klinik Gigi

Matt mengungkapkan, biaya pengiriman minyak yang sebelumnya berkisar US$ 3-US$ 4 per barel kini melonjak menjadi lebih dari US$ 30 per barel.

Sementara itu, biaya asuransi pengiriman dari kawasan Teluk Timur Tengah meningkat dari sekitar US$ 0,10 per barel menjadi lebih dari US$ 3 per barel.

"Persoalan yang muncul sejak konflik dimulai adalah meningkatnya biaya untuk memindahkan setiap barel minyak. Inilah yang mengalami kenaikan sangat signifikan dan berpotensi diteruskan kepada konsumen," ujar Matt dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).

Menurut Matt, gangguan jalur pelayaran di Timur Tengah memaksa produsen dan pelaku perdagangan minyak mengubah rute distribusi untuk mempertahankan pasokan.

Salah satunya, Arab Saudi mengalihkan sebagian pengiriman minyak melalui jaringan pipa East-West menuju Yanbu di pesisir Laut Merah.

Baca Juga: PMI Manufaktur Menguat, Pasar Aftermarket Topang Bisnis Komponen SMSM

Namun, perubahan rute tersebut belum sepenuhnya memulihkan kelancaran perdagangan. Berdasarkan rata-rata pergerakan tujuh hari Kpler, volume minyak mentah dan produk petroleum yang melintasi jalur perdagangan terdampak masih sekitar 40% lebih rendah dibandingkan tingkat sebelum konflik.

Tekanan terutama terjadi pada perdagangan produk petroleum, seperti diesel, bahan bakar pesawat atau avtur, dan bensin. Sementara itu, arus perdagangan minyak mentah relatif telah mendekati tingkat sebelum konflik.

Matt menilai, kenaikan biaya pengangkutan dan asuransi perlu diwaspadai karena berpotensi menambah beban biaya di sepanjang rantai pasok energi.

Negara yang bergantung pada impor minyak dan produk BBM akan menghadapi tekanan lebih besar ketika ongkos logistik global meningkat.

Baca Juga: Komisaris Mundur, Saham Krakatau Steel (KRAS) Menguat 1,96%

Bagi Indonesia, kondisi tersebut menjadi tantangan di tengah kebutuhan energi domestik yang terus bertumbuh.

Matt menilai, ketersediaan bensin dan produk BBM jadi atau refined petroleum products akan semakin penting dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat.

Menurut dia, peningkatan kapasitas kilang dalam negeri perlu berjalan beriringan dengan upaya mengamankan pasokan produk BBM dari pasar internasional.

"Indonesia merupakan salah satu pasar yang sangat penting di Asia Tenggara. Dengan pertumbuhan populasi dan permintaan yang terus meningkat, harga bahan bakar jadi akan semakin relevan. Saya akan lebih memperhatikan harga diesel, bukan hanya harga minyak mentah, termasuk kapasitas pengolahan dan dari mana pasokan produk tersebut berasal," jelasnya.

Matt juga mengingatkan Indonesia untuk memperhatikan persaingan memperoleh pasokan produk minyak jadi di kawasan Asia. Sebab, sejumlah negara lain juga memiliki kebutuhan impor energi yang besar.

Australia, misalnya, mengalami penurunan jumlah kilang dari sekitar 15 unit dua dekade lalu menjadi hanya dua unit saat ini. Kondisi tersebut membuat Australia turut bergantung pada pasokan produk BBM dari pasar internasional.

Baca Juga: Permintaan Emas Perhiasan Tertekan, Hartadinata (HRTA) Andalkan Ekspor ke UEA

Di sisi lain, perusahaan minyak nasional di kawasan Timur Tengah masih berupaya mempertahankan pasokan bagi mitra dagang di Asia melalui kontrak jangka panjang.

Indonesia, Malaysia, Thailand, India, dan China termasuk pasar yang memiliki hubungan perdagangan energi dengan produsen di kawasan tersebut.

Menurut Matt, situasi ini memperlihatkan pentingnya diversifikasi sumber pasokan dan pemantauan arus perdagangan energi global.

Pemerintah dan pelaku industri perlu memetakan ketersediaan pasokan alternatif, lokasi pemuatan minyak, hingga perubahan rute distribusi untuk mengantisipasi gangguan berikutnya.

Transparansi data perdagangan energi juga diperlukan untuk memantau perubahan pasokan dan tingkat persediaan minyak di tengah ketidakpastian geopolitik.

Baca Juga: Antam (ANTM) Sambut Bursa Mineral dan Komoditas Strategis

Dengan demikian, penguatan ketahanan energi Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan kapasitas pengolahan minyak domestik.

Kemampuan mengamankan pasokan minyak mentah dan produk BBM jadi, sekaligus mengendalikan biaya logistik, juga menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News