OPEC+ Bahas Kenaikan Produksi di Tengah Gangguan Pasokan Akibat Perang Iran



KONTAN.CO.ID - OPEC+ akan mempertimbangkan kenaikan produksi minyak lebih besar dari perkiraan dalam pertemuan Minggu (1/3/2026), menyusul perang Amerika Serikat (AS)–Israel terhadap Iran dan aksi balasan Teheran yang mengganggu pengiriman energi di Timur Tengah.

Dua sumber OPEC+ menyebutkan kelompok tersebut akan membahas kenaikan produksi sebesar 411.000 barel per hari (bph) atau lebih, jauh di atas ekspektasi awal 137.000 bph.

Baca Juga: Kapal Tanker Dihantam Serangan di Lepas Pantai Oman, Empat Awak Luka


Gangguan di Selat Hormuz

Pengiriman minyak, gas, dan komoditas lain melalui Selat Hormuz dilaporkan terhenti sejak Sabtu setelah pemilik kapal menerima peringatan dari Iran bahwa kawasan itu ditutup untuk navigasi.

Selat Hormuz merupakan jalur minyak terpenting dunia, dengan lebih dari 20% perdagangan minyak global melintas di rute tersebut.

Gangguan ini memicu lonjakan harga minyak ke level US$ 73 per barel pada Jumat, tertinggi sejak Juli, di tengah kekhawatiran konflik yang lebih luas.

Para pemimpin Timur Tengah memperingatkan Washington bahwa perang terhadap Iran dapat mendorong harga minyak melampaui US$ 100 per barel.

Analis senior RBC, Helima Croft, serta analis dari Barclays menilai risiko kenaikan harga ke level tersebut cukup besar.

Baca Juga: Daftar Maskapai yang Membatalkan Penerbangan Usai Serangan AS-Israel ke Iran

Kapasitas Cadangan Terbatas

OPEC+ memiliki rekam jejak menaikkan produksi untuk meredam gangguan pasokan. Namun analis menilai kapasitas cadangan saat ini sangat terbatas, kecuali pada Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Riyadh dilaporkan telah meningkatkan produksi dan ekspor dalam beberapa pekan terakhir sebagai antisipasi serangan AS terhadap Iran.

Croft menilai dampak pasar dari kenaikan produksi besar kemungkinan tetap terbatas karena hanya sedikit negara yang benar-benar memiliki kapasitas tambahan signifikan di luar Arab Saudi.

Baca Juga: Di Tengah Vakumnya Khamenei, Ali Larijani Muncul sebagai Pengendali Arah Politik Iran

Delapan Negara Inti

Pertemuan yang dimulai pukul 11.00 GMT itu hanya melibatkan delapan anggota utama OPEC+, yakni: Arab Saudi, Rusia, Uni Emirat Arab, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman.

OPEC+ sendiri merupakan aliansi antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya seperti Rusia.

Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar penyesuaian produksi memang diputuskan oleh delapan negara inti tersebut.

Sebelumnya, kedelapan negara telah menaikkan kuota produksi sekitar 2,9 juta bph dari April hingga Desember 2025 setara sekitar 3% dari permintaan global sebelum menghentikan kenaikan untuk periode Januari–Maret 2026 akibat pelemahan musiman.