KONTAN.CO.ID - JAKARTA. OpenAI sedang mempertimbangkan kontrak untuk menerapkan teknologi kecerdasan buatannya (AI) pada jaringan “tidak tersandi” (unclassified) milik Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO), menurut sumber yang mengetahui hal ini, Selasa (3/3/2026). Pertimbangan ini muncul beberapa hari setelah pemilik ChatGPT itu menandatangani kesepakatan dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon). Menurut laporan pertama The Wall Street Journal, CEO OpenAI, Sam Altman, awalnya menyebutkan dalam pertemuan internal perusahaan bahwa pihaknya menargetkan penerapan teknologi AI di seluruh jaringan tersandi NATO.
Baca Juga: Ini Daftar Negara yang Repatriasi Warganya Akibat Terjebak Konflik di Timur Tengah Namun, juru bicara OpenAI kemudian mengklarifikasi bahwa Altman salah menyampaikan informasi, dan peluang kontrak ini hanya berlaku untuk jaringan “tidak tersandi” NATO. NATO, aliansi militer yang terdiri dari 32 negara anggota, belum memberikan tanggapan resmi terkait rencana ini di luar jam kerja reguler.
Kesepakatan OpenAI dengan Pentagon
OpenAI, yang didukung oleh perusahaan teknologi besar seperti Microsoft dan Amazon, mengumumkan kesepakatan akhir pekan lalu untuk menerapkan teknologinya pada jaringan tersandi Pentagon. Kesepakatan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengarahkan pemerintah untuk menghentikan kerja sama dengan Anthropic, pesaing OpenAI. Keputusan Trump terkait Anthropic muncul setelah adanya kebuntuan dalam pembicaraan kontrak dengan Pentagon mengenai penggunaan teknologi AI milik perusahaan tersebut. CEO Anthropic, Dario Amodei, menekankan bahwa perusahaannya menolak penggunaan AI oleh Pentagon untuk pengawasan domestik massal atau pengembangan senjata otonom sepenuhnya.
Baca Juga: Italia Siap Kirim Sistem Pertahanan Udara ke Negara Teluk Hadapi Serangan Iran Sementara itu, Pentagon sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya tidak berminat menggunakan AI untuk pengawasan massal terhadap warga AS atau pengembangan senjata tanpa keterlibatan manusia. Namun, Pentagon menekankan bahwa penggunaan AI yang sah secara hukum tetap diperbolehkan.
Pernyataan OpenAI Mengenai Penggunaan AI
Dalam pernyataan terbaru pada Senin, setelah kesepakatan Jumat lalu, OpenAI menegaskan bahwa sistem AI mereka “tidak akan digunakan secara sengaja untuk pengawasan domestik terhadap warga dan warga negara AS.” Pentagon juga menegaskan bahwa layanan AI tersebut tidak akan digunakan oleh lembaga intelijen seperti National Security Agency (NSA). “I think this was an example of a complex, but right decision with extremely difficult brand consequences and very negative PR for us in the short term,” kata Altman dalam pertemuan internal perusahaan, merujuk pada kesepakatan dengan Pentagon, seperti dilaporkan The Wall Street Journal.