KONTAN.CO.ID - Pengacara Elon Musk menuding CEO OpenAI Sam Altman melakukan “amnesia selektif” dan berbohong dalam persidangan yang mendekati akhir, terkait gugatan yang menyoroti perubahan struktur OpenAI dari organisasi nirlaba menjadi perusahaan yang dinilai menguntungkan pihak tertentu. Dalam persidangan di pengadilan federal Oakland, California, Kamis (14/5/2026), tim hukum Musk mempertanyakan kredibilitas Altman serta menuduh OpenAI menyimpang dari misi awalnya untuk mengembangkan kecerdasan buatan (AI) demi kepentingan umat manusia.
Baca Juga: LVMH Lepas Marc Jacobs, WHP Global dan G-III Ambil Alih Kepemilikan Kasus ini berpusat pada tuduhan bahwa OpenAI dan para pimpinannya mengubah organisasi nirlaba tersebut menjadi entitas komersial yang menguntungkan, termasuk melalui kerja sama besar dengan Microsoft dan investor lain. Elon Musk menggugat OpenAI dan Sam Altman atas dugaan pelanggaran kepercayaan amal (
breach of charitable trust) serta keuntungan tidak sah (
unjust enrichment). Ia juga menuduh adanya manipulasi yang membuatnya menyumbang sekitar US$38 juta, serta perubahan arah perusahaan tanpa persetujuannya. Musk menuntut ganti rugi sekitar US$150 miliar, yang menurutnya harus diberikan kepada entitas nirlaba OpenAI. Ia juga meminta agar Sam Altman dan Presiden OpenAI Greg Brockman dicopot dari jabatannya.
Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Williams: Kebijakan Sudah di Posisi Tepat Saling Serang di Persidangan Dalam argumen penutup, pengacara Musk, Steven Molo, menyebut sejumlah saksi termasuk Musk sendiri dan mantan anggota dewan OpenAI menilai Altman tidak jujur. “Jika Anda tidak percaya pada Altman, mereka tidak bisa menang,” ujar Molo di hadapan juri. Ia juga menuding OpenAI dan para petingginya berupaya memperkaya investor dan pihak internal, bukan fokus pada keselamatan pengembangan AI.
Baca Juga: Akui Sentilan Xi Jinping, Trump: Amerika Kini Kembali Jadi Negara Terkuat di Dunia Selain itu, Musk juga menuduh Microsoft mengetahui seluruh proses perubahan OpenAI. Microsoft diketahui telah berinvestasi besar, termasuk US$1 miliar pada 2019 dan US$10 miliar pada 2023. “Microsoft mengetahui apa yang dilakukan OpenAI di setiap tahap,” kata Molo. OpenAI Bantah dan Serang Balik Musk Di sisi lain, kuasa hukum OpenAI, Sarah Eddy, menyebut klaim Musk sebagai “narasi yang tidak relevan” dan berisi tuduhan yang tidak berdasar. Menurut Eddy, sejak 2017 semua pihak, termasuk Musk yang saat itu masih berada di dewan OpenAI, sudah mengetahui bahwa pengembangan AI membutuhkan pendanaan besar yang tidak dapat dipenuhi oleh model nirlaba. “Mr. Musk ingin mengubah OpenAI menjadi perusahaan yang bisa ia kendalikan,” ujarnya.
Baca Juga: Pejabat The Fed Soroti Bahaya Penyusutan Neraca Lewat Relaksasi Likuiditas Ia juga mempertanyakan konsistensi sikap Musk yang dinilai pernah mencoba mengintegrasikan OpenAI dengan Tesla serta membangun perusahaan AI pesaing bernama xAI. Eddy menuding Musk tidak bisa mengklaim tidak mengetahui rencana perubahan struktur OpenAI, termasuk dokumen investasi yang pernah ia terima pada 2018. “Seorang pebisnis paling canggih di dunia tidak mungkin mengabaikan hal seperti itu,” kata Eddy. Sorotan Microsoft dan Proses Hukum Dalam persidangan, Microsoft melalui kuasa hukumnya menyatakan tidak terlibat langsung dalam konflik utama perkara dan menyebut diri mereka sebagai mitra yang bertanggung jawab.
Hakim menyebut bahwa juri beranggotakan sembilan orang akan mulai berunding pada hari Senin mendatang.
Baca Juga: Heboh Artikel Kekerasan Seksual, Netanyahu Bakal Gugat The New York Times Kasus ini menjadi sorotan publik di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap perkembangan AI, termasuk dampaknya terhadap pekerjaan, keamanan, dan penyalahgunaan teknologi seperti deepfake. Jika Musk menang, pengadilan akan mempertimbangkan restrukturisasi OpenAI dan potensi ganti rugi. Namun jika kalah, tidak akan ada tindakan lanjutan dalam perkara tersebut.