KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank memperbesar belanja operasional pada semester I-2026 di tengah upaya memperluas bisnis dan memperkuat kapabilitas digital. Meski demikian, kenaikan biaya tersebut tetap diiringi dengan langkah efisiensi agar pertumbuhan opex tidak menekan profitabilitas perbankan. PT Bank Central Asia (BCA) mencatat biaya operasional atau operating expenses (opex) sebesar Rp17,4 triliun pada semester I-2026, naik 1,5% secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan tersebut terutama berasal dari beban umum dan administrasi (general and administrative expenses/G&A) yang tumbuh 4,6% yoy menjadi Rp8,5 triliun. Di sisi lain, beban tenaga kerja BCA turun 1,2% yoy menjadi sekitar Rp9 triliun.
Kenaikan biaya operasional juga terjadi pada sejumlah bank besar lainnya. PT Bank Negara Indonesia (BNI) membukukan opex Rp15,5 triliun pada semester I-2026, meningkat 12,6% yoy dibandingkan sekitar Rp13,8 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Selanjutnya, opex PT Bank Tabungan Negara (BTN) naik 9,4% yoy menjadi Rp5,9 triliun. Biaya operasional Bank Danamon juga meningkat 2% yoy menjadi sekitar Rp6,73 triliun. PT Bank OCBC NISP mencatat kenaikan opex 1% yoy menjadi sekitar Rp3,1 triliun. Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga membukukan peningkatan biaya operasional sebesar 7,2% yoy menjadi Rp4,63 triliun.
Baca Juga: Penjualan Mobil Tumbuh 10,5%, Adira Finance Ungkap Penyebab Pembiayaan Tertekan Berbeda dengan bank-bank tersebut, Bank Mandiri justru mampu menurunkan beban operasional pada semester I-2026. Operating expenses Bank Mandiri tercatat Rp26,93 triliun, turun tipis 1,42% yoy dibandingkan Rp27,31 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan beban tersebut turut menopang peningkatan efisiensi Bank Mandiri. Kondisi itu juga berkontribusi terhadap pertumbuhan pre-provision operating profit (PPOP) sebesar 19,9% yoy menjadi Rp44,18 triliun. Jika dirinci, beban personalia Bank Mandiri pada semester I-2026 mencapai Rp11,2 triliun atau masih meningkat 2,47% yoy. Namun, kenaikan tersebut diimbangi penurunan G&A expenses sebesar 6,32% yoy menjadi Rp10,6 triliun. Sementara itu, other expenses Bank Mandiri naik 1,26% yoy menjadi Rp5,06 triliun.
Biaya Overhead Perbankan Naik
Kenaikan biaya operasional juga terlihat pada industri perbankan secara keseluruhan. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), biaya overhead (OHC) perbankan mencapai 3,49% pada Mei 2026, naik dari 3,43% pada April 2026. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi kenaikan beban promosi serta beban lainnya yang mencakup belanja barang dan jasa serta taksiran pajak tahun berjalan. Kelompok bank BUMN mencatat kenaikan OHC paling besar, yakni dari 3,66% menjadi 3,76%. Kelompok kantor cabang bank asing (KCBA) juga meningkat dari 1,73% menjadi 1,76%. Sementara itu, OHC bank umum swasta nasional (BUSN) naik tipis dari 3,15% menjadi 3,16%. Adapun kelompok bank pembangunan daerah (BPD) menjadi satu-satunya kelompok yang mencatat penurunan OHC, dari 3,64% menjadi 3,62%. Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai kenaikan biaya overhead perbankan pada semester I-2026 tidak terlepas dari aktivitas ekspansi dan investasi yang dilakukan bank. "Menurut saya, kenaikan biaya overhead perbankan pada semester I 2026 disebabkan kenaikan dari aktivitas ekspansi dan investasi bank," ujar Trioksa kepada kontan.co.id, Jumat (14/8). Menurut dia, sejumlah komponen yang menjadi penyumbang kenaikan biaya antara lain belanja barang dan jasa, biaya tenaga kerja, promosi, penyusutan dan amortisasi, pajak, serta investasi teknologi dan keamanan digital.
Baca Juga: Ini Strategi Zurich Life Dorong Kinerja Asuransi Jiwa Kredit di Tengah Dinamika Pasar Investasi tersebut meningkat seiring dengan transformasi layanan perbankan yang dilakukan industri. Trioksa memperkirakan, biaya overhead masih berpotensi tinggi hingga akhir 2026. Namun, bank masih memiliki ruang untuk menekan pertumbuhan biaya melalui efisiensi belanja vendor dan pengadaan, mengurangi promosi yang kurang produktif, serta mengurangi proses manual dan duplikasi pekerjaan. Selain itu, bank dapat melakukan konsolidasi aplikasi yang tumpang tindih dan mengoptimalkan jaringan kantor dengan tingkat produktivitas rendah. "Strateginya bukan sekadar memangkas biaya, melainkan meningkatkan produktivitas setiap rupiah biaya melalui otomasi, digitalisasi, konsolidasi sistem dan vendor, penguatan CASA serta fee-based income," jelasnya. Meski demikian, Trioksa mengingatkan bank tidak boleh memangkas biaya secara membabi buta, terutama untuk kebutuhan manajemen risiko, kepatuhan dan keamanan siber. Dengan strategi tersebut, menurut dia, profitabilitas bank masih berpeluang tumbuh apabila peningkatan pendapatan mampu melampaui pertumbuhan biaya operasional.
Bank Tetap Jaga Efisiensi
Di sisi lain, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, beban operasional BCA relatif terjaga dengan pertumbuhan yang cenderung flat hingga semester I-2026. "BCA senantiasa mengelola biaya operasional secara efektif dan efisien dalam mendukung pertumbuhan bisnis. Pengelolaan operasional yang efisien salah satunya dilakukan melalui optimalisasi transaksi melalui layanan perbankan digital dan transaksi non tunai sebagaimana yang tersedia di mobile banking dan internet banking," ujar Hera. Menurutnya, efisiensi tersebut tercermin dari cost to income ratio (CIR) BCA yang berada di level 31,7% pada kuartal II-2026. Ke depan, BCA akan terus memperkuat ekosistem finansial sekaligus menyempurnakan dan memodernisasi infrastruktur teknologi informasi untuk menjaga efisiensi operasional dan kualitas layanan kepada nasabah. Adapun Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, kenaikan opex perseroan secara praktik masih relatif datar. "Opex practically flat, namun di tahun lalu ada one off yang mengurangi biaya saja," kata Lani.
Baca Juga: NIM Bank Turun Jadi 4,34%, OJK Ungkap Penyebab dan Prospeknya Sementara itu, Chief Financial Officer Bank Danamon Theresia Adriana mengatakan, kenaikan biaya operasional konsolidasian Danamon sebesar 2% yoy menjadi Rp6,7 triliun sejalan dengan kebutuhan operasional dan berbagai inisiatif strategis untuk mendukung pertumbuhan bisnis perseroan dan anak usaha. "Danamon tetap mengelola biaya operasional secara disiplin sehingga kenaikan tersebut berada pada tingkat yang terkendali dan sesuai dengan kebutuhan bisnis Danamon dan anak perusahaan," ujar Theresia. Kontributor utama kenaikan biaya berasal dari sejumlah komponen, termasuk gaji dan tunjangan karyawan, biaya iklan dan promosi, serta biaya teknologi informasi.
Menurut Theresia, pengeluaran tersebut merupakan bagian dari investasi untuk mengembangkan kapabilitas sumber daya manusia, memperkuat merek dan aktivitas bisnis, serta meningkatkan keamanan, ketahanan dan efisiensi operasional. Ke depan, Danamon akan terus menerapkan pengelolaan biaya secara disiplin dan selektif dengan mempertimbangkan kebutuhan bisnis, prioritas strategis, serta rencana investasi perseroan dan anak usaha. Danamon juga akan mendorong efisiensi dan produktivitas melalui optimalisasi proses bisnis, penguatan kapabilitas digital dan teknologi, serta pemanfaatan sinergi bersama MUFG sebagai induk perusahaan, jaringan grup, dan mitra strategis. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News