KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Industri perbankan, meski masih optimis, nampaknya lebih berhati-hati dengan prospek bisnis di kuartal III-2026. Hal itu tercermin dari hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) Triwulan III-2026. Survei kali ini menghasilkan Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) di level 56. Meski masih di jalur optimis, indeks turun dari posisi 59 pada kuartal II-2026 dan 65 pada kuartal III-2025. Jika dibedah, indikator Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) susut ke zona pesimis di posisi 28, turun dari 37 pada kuartal II-2026 dan 56 pada kuartal III-2025.
Baca Juga: Ekuitas Fintech P2P Lending Tertekan, OJK Ungkap Penyebabnya Sementara itu, Indeks Persepsi Risiko (IPR) dan Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) stabil jika dibandingkan tahun sebelumnya, masing-masing ada di zona optimis 57 atau naik tipis dari posisi 56 pada kuartal II-2026 dan 83 atau naik tipis dari posisi 82 pada kuartal II-2026. Anjloknya ekspektasi perbankan akan kondisi makroekonomi terutama disebabkan oleh proyeksi berlanjutnya peningkatan suku bunga acuan seiring upaya Bank Indonesia (BI) menjaga nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global dan domestik, serta inflasi. Dari sisi global, suku bunga The Fed diprediksi masih tetap tinggi sehingga BI perlu menjaga daya tarik aset domestik dengan tawaran bunga tinggi. Dari domestik, inflasi yang telah mendekati batas atas sasaran, yang disertai kenaikan harga energi dan biaya produksi, meningkatkan risiko imported inflation dan tekanan harga lanjutan. Di level individu bank, Bank Central Asia (BCA) sepakat bahwa kondisi ekonomi menjadi penentu utama keberlangsungan bisnis. “Kalau ekonominya baik tentu kepercayaan diri pebisnis untuk menumbuhkan bisnis akan terjaga dengan baik,” ujar Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim, dikutip Selasa (15/9/2026). Saat ini, Vera bilang pihaknya mencermati peningkatan volatilitas dalam dua tahun terakhir. Dari sisi global, kondisi geopolitik dan suku bunga global menjadi katalisnya, sementara dari domestik, stabilitas mata uang menjadi perhatian. Namun, BCA masih memandang positif prospek ekonomi Indonesia untuk jangka panjang, dengan pendorong utama yang dicermati dari komoditas. Vera bilang selama harga komoditas terjaga baik, pertumbuhan ekonomi berpotensi terjaga.
Baca Juga: Ekuitas Fintech P2P Lending Tertekan, OJK Ungkap Penyebabnya BCA masih optimistis target pertumbuhan kredit 10% secara tahunan hingga akhir tahun bakal tercapai. Sebagai gambaran, hingga Agustus 2026 kredit BCA secara bank only sudah tumbuh 10,52% secara tahunan. Vera bilang pihaknya melihat kredit korporasi masih bakal menjadi mesin pertumbuhan portofolio kredit bank, sementara sektor yang kuat dari manufaktur dan perdagangan sebagai. Pihaknya menargetkan pertumbuhan yang positif dengan kredit berisiko (loan at risk/LaR) dijaga di level 4,7%–4,8%.
NIM Menyusut
Namun, BCA melihat margin bunga bersih (net interest margin/NIM) berpotensi tertekan dengan kondisi kompetisi penghimpunan dana yang ketat sementara pertumbuhan kredit tetap didorong. Itu mengapa BCA mengestimasikan NIM turun menjadi 5,3% pada akhir tahun nanti, dari posisi 5,7% pada tahun sebelumnya. Bank Negara Indonesia (BNI) juga mematok target NIM yang lebih rendah untuk tahun ini, yakni di kisaran 3,3%–3,5%, turun lagi dari target 3,5%–3,8% yang dipasang sebelumnya, lantaran kenaikan biaya dana pihak ketiga (DPK) dan persaingan suku bunga kredit di industri. Namun begitu, Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena bilang tekanan NIM ini dapat diimbangi dengan pertumbuhan kredit yang kuat. Hingga Agustus 2026, kredit BNI secara bank only tumbuh subur 27,14% secara tahunan menjadi Rp 977,17 triliun. Hingga akhir tahun, kredit tetap ditargetkan tumbuh di rentang 8,8%–10% secara tahunan. Untuk mendukung ekspansi tersebut, Paolo memastikan bank memiliki modal yang cukup. “Untuk itu permodalan dan likuiditas menjadi fokus utama,” katanya.
Demi mendukung pertumbuhan kredit sekaligus menjaga NIM, BNI bakal menjaga momentum pertumbuhan dana murah melalui optimalisasi platform digital. Ini dilakukan untuk menjaga biaya dana (cost of fund/CoF). Di luar itu, BNI juga bakal lebih selektif dalam menyalurkan kredit dan menjaga disiplin dalam melakukan pricing kredit agar margin tetap terjaga.
Baca Juga: Saatnya Siapkan Dana Pensiun Sejak Usia Produktif, Buka BRI DPLK Mudah Lewat BRImo Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News