Optimisme ECB membangkitkan euro



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pernyataan Gubernur European Central Bank (ECB) Mario Draghi yang optimistis terhadap inflasi Uni Eropa membuat euro tak terbendung di hadapan mata uang utama lain. Kemarin, pasangan EUR/USD menguat 0,07% ke level 1,2325. Serupa, duet EUR/GBP pun terangkat 0,20% menjadi 0,8836 dan pairing EUR/JPY menanjak 0,08% ke posisi 131,80.

Walau Draghi belum memberikan penjelasan mengenai penghentian stimulus, euro tetap perkasa. Maklum, data ekonomi di sejumlah negara Uni Eropa membaik. Ini menunjukan sinyal positif bahwa ekonomi di benua biru tumbuh sesuai perkiraan.

Namun, pergerakan euro masih terbatas lantaran dibayangi sentimen dari pemilihan umum (pemilu) di Italia, dan kepastian koalisi Pemerintahan Kanselir Jerman Angela Markel akhir pekan ini.


Keunggulan EUR/USD juga terjadi karena pasar masih menantikan pidato pertama Gubernur Federal Reserve (The Fed) yang baru Jerome Powell. Alwi Asegaff, Analis PT Global Kapital Investama Berjangka, mengatakan, pasar berharap, Powell bakal menyinggung kepastian kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) untuk tahun ini.

Jika suku bunga The Fed naik, ada potensi dollar negeri Uwak Sam berbalik arah. "Saat ini, dollar AS masih minim sentimen lantaran pasar masih khawatir terhadap potensi defisit anggaran Pemerintahan Donald Trump," kata Alwi, Selasa (27/2). Kekhawatiran tersebut menyeret indeks dollar AS dan membuat the greenback bertekuk lutut.

Sementara poundsterling kembali ambruk gara-gara silang pendapat antara partai oposisi dan pemerintah terkait proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa. "Jadi, ada partai oposisi yang tidak setuju pada beberapa poin rencana Brexit," ujar Putu Agus Pransuamitra, Analis PT Monex Investindo Futures.

Pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn menyatakan, seharusnya Inggris mempertahankan hubungan ekonomi yang dekat dengan Uni Eropa, termasuk kesepakatan bebas bea. Tentu, keinginan Partai Buruh itu bertentangan dengan Perdana Menteri Theresa May, yang menganggap rencana tersebut justru membatasi kebebasan Inggris untuk melakukan kesepakatan perdagangan baru di seluruh dunia, setelah meninggalkan Uni Eropa pada 2019.

Nah, tekanan pada poundsterling ini membuat pairing EUR/GBP berpotensi melanjutkan penguatan. Terlebih, jika data inflasi Jerman lebih tinggi dari proyeksi 0,5%, maka euro dipastikan akan mengungguli GBP yang belum memiliki katalis positif.

Sedang Bank of Japan (BoJ) yang merilis inflasi tahunan Jepang pada Januari lalu yang mencapai 0,8% tetap tidak bisa membuat yen unggul atas euro. Padahal, angka inflasi tahunan ini sudah lebih tinggi dari proyeksi 0,6%.

Wahyu Tribowo Laksono, Analis PT Central Capital Futures, mengungkapkan, meski lebih tinggi dari perkiraan, inflasi Jepang yang masih jauh dari target BoJ sebesar 2% membuat JPY tak bertenaga. Sebelumnya, Gubernur Haruhiko Kuroda menetapkan, target inflasi Jepang 2%.

Lantaran masih jauh dari target tersebut, BoJ diperkirakan belum akan mengubah kebijakannya. Tapi, dengan ketidakpastian geopolitik di kawasan Italia dan Jerman, maka muncul potensi yen untuk kembali diincar sebagai aset lindung nilai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati