Optimisme Konsumen dan Penjualan Eceran Menurun, Daya Beli Kian Tertekan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja penjualan eceran diperkirakan menurun pada Juni 2026 bila dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang mencapai 221,6 pada Juni 2026 atau turun dari bulan sebelumnya yang mencapai 223,4.

Secara tahunan, penjualan eceran terkontraksi 4,4% year on year (YoY), lebih dalam dibanding kontraksi 3,9% YoY pada bulan sebelumnya.

Penurunan  kinerja penjualan eceran menyusul data optimisme konsumen yang juga sama-sama melemah pada Juni 2026.


Survei Konsumen Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun menjadi 117,8 pada Juni 2026, dari 120,9 pada Mei 2026. Meski masih berada di atas level 100 yang mencerminkan kondisi optimistis, penurunan tersebut menunjukkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun enam bulan mendatang mulai berkurang.

Ekonom Makro PT Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto menilai, penurunan kedua indikator tersebut menunjukkan tekanan ekonomi yang sebelumnya lebih banyak ditanggung pelaku usaha kini mulai dirasakan langsung oleh rumah tangga.

Baca Juga: Kinerja Penjualan Eceran Diproyeksi Turun pada Juni 2026

“Jadi yang sebelumnya yang menanggung tekanan eksternal itu lebih banyak produsen, sekarang sudah terasa di sisi konsumen. Transisi beban (pass-through) ini memaksa konsumen merekalibrasi pengeluaran harian mereka secara ketat dan memicu sikap defensif dalam merespons ekonomi," ujar Myrdal kepada Kontan, Rabu (9/7/2026).

Menurut Myrdal, tekanan tersebut juga tercermin dari perubahan alokasi pendapatan masyarakat. Porsi pendapatan yang ditabung semakin menyusut, sementara porsi konsumsi meningkat.

Ia mencatat, terjadi penyusutan tabungan (saving to income ratio) dengan proporsi pendapatan untuk ditabung turun 0,5% menjadi 17,0% pada Juni 2026, dari 17,5% di Mei 2026. Ini memperlihatkan ruang fiskal pribadi masyarakat yang semakin sempit.

Myrdal juga menyoroti meningkatnya porsi konsumsi rumah tangga. lonjakan beban konsumsi average propensity to consume ratio, yaitu terjadi peningkatan porsi konsumsi sebesar 0,7%, merangkak naik menjadi 73,0% pada Juni 2026, dari 72,3% pada Mei 2026. Menurutnya kondisi tersebut menjadi sinyal konsumen terpaksa mengorbankan dana cadangan semata-mata untuk mengompensasi beban biaya hidup harian.

Lebih lanjut, Myrdal menilai tekanan daya beli telah merambah ke belanja nonprimer. Tekanan daya beli ini menembus hingga ke rencana pembelanjaan sekunder. Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (Durable Goods) melorot dari 108,3 pada Mei 2026 menjadi 105,9 pada Juni 2026.

Sikap defensif ini diperjelas oleh Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja yang merosot tajam dari 105 pada Mei 2026 jadi 101,8 pada Juni 2026. Hal ini kata Dia, merefleksikan persepsi konsumen terhadap pencarian kerja baru yang lebih sulit di pasar tenaga kerja yang kurang kondusif.

Baca Juga: BI Prediksi Penjualan Eceran Meningkat Jelang Tahun Ajaran Baru dan Natal

Di sisi ritel, Myrdal mengatakan kontraksi penjualan mencerminkan dampak pelemahan konsumsi masyarakat. Sementara, kinerja penjualan eceran terus anjlok, yaitu dari -3,9% YoY pada Mei 2026 menjadi 4,4% yoy pada Juni 2026.

“Ini merupakan dampak dari pelemahan daya beli yang kemudian terefleksi pada sektor ritel, meski terdapat momentum positif libur anak sekolah yang menstimulasi belanja sekunder," katanya.

Menurutnya, pelemahan konsumsi dan penjualan ritel masih berpotensi berlanjut apabila tekanan eksternal belum mereda.

Lebih lanjut, tekanan yang terjadi pada optimisme konsumen maupun penjualan ritel diperkirakan akan terus berlanjut jika lonjakan inflasi impor, baik dari sisi tekanan harga minyak dunia maupun pelemahan Rupiah masih berlangsung.

Karena itu, ia memandang dukungan kebijakan fiskal masih diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Baca Juga: BI Prediksi Penjualan Eceran di Banjarmasin, Jakarta & Medan Meningkat pada Mei 2026

“Dengan tekanan yang semakin terlihat dari sisi optimisme konsumen maupun penjualan ritel ini, maka kami melihat orkestrasi langkah penanganan yang sinergis,” ungkapnya.

Beberapa kebijakan yang perlu dilakukan di antaranya, pertama, stimulus defensif dan jaring pengaman sosial pemerintah diharapkan terus menggelontorkan paket stimulus fiskal dan Bantuan Sosial (Bansos) bagi kelompok berpendapatan rendah. Hal ini lanjutnya, esensial guna menjaga situasi kondisi pada masyarakat golongan akar rumput.

Kedua, rasionalisasi dan efisiensi anggaran (austerity measures) untuk pengeluaran kebutuhan non primer sebagai penopang belanja fiskal krusial bagi daya beli masyarakat menengah bawah.

Dengan demikian, ia melihat prospek pemulihan nasional saat ini bergantung pada de-eskalasi ketegangan geopolitik. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan mencapai 5,17% pada tahun ini. Jika harga minyak dunia kembali melandai, inflasi global akan tereduksi, memicu kembalinya capital inflow dari pemodal global ke pasar berkembang (termasuk Indonesia).

Ia juga menambahkan, asupan likuiditas dari luar ini akan kembali memperkuat nilai tukar Rupiah, tanpa harus mencekik sektor riil melalui rezim suku bunga tinggi.

“Dengan stabilnya kurs dan inflasi, ruang yang tersedia bagi konsumen dan pelaku usaha akan kembali terbuka. Ini memberi momentum bagi perekonomian nasional untuk berekspansi dengan solid,” tandasnya.

Baca Juga: BI: Penjualan Eceran 3 hingga 6 Bulan ke Depan Akan Meningkat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News