JAKARTA. Optimisme konsumen negara berkembang akan terus menguat tahun ini. Dari 14.200 responden di delapan negara berkembang yang disurvei Credit Suisse 39%-nya yakin kondisi keuangan pribadinya akan membaik dalam enam bulan ke depan. Kendati demikian, penyebaran optimisme tersebut dinilai kurang merata. Optimisme terbaik hanya dicatat oleh Brazil, China, Indonesia, dan Arab Saudi. Nah, dari keempat negara tersebut, hanya China dan Indonesia yang sedang menjadi sorotan dunia. Uniknya, tingkat optimisme Indonesia justru lebih tinggi dibanding China. Harapan tinggi atas kenaikan gaji ditengarai menjadi penyebab kenaikan optimisme tersebut. Di Indonesia, 57% responden yang memiliki pendapatan menengah yakin gaji bulanannya akan bertambah. Empat puluh persen responden dengan gaji eksklusif yakin gajinya akan naik di atas 10%. Hanya 3% yang pesimistis tidak ada perbaikan gaji. Sementara di China, 55% responden berpenghasilan menengah yakin pendapatannya akan meningkat 10%. Sisanya, 27% yakin pendapatannya naik di atas 10%, dan 55% pesimistis gajinya akan naik. Ella Nusantoro Vice President Credit Suisse menuturkan untuk kasus Indonesia, kenaikan tersebut akan mempengaruhi kinerja perusahaan produsen makanan dan minuman. "Bagi golongan menengah, urusan perut pasti jadi prioritas ketika mereka dapat duit tambahan," imbuhnya. Lebih jauh Ella mengungkapkan, momentum penguatan branding nantinya akan terjadi untuk produk makanan yang sudah populer semacam Indomie. "Meski jawaban mereka tidak ketika ditanya apakah mereka akan menambah konsumsi mie, tapi semua orang kan pasti makan mie," tukas Ella. Pernyataan Ella mengacu pada hasil survei yang menunjukkan konsumsi mie instan memang menyasar segala golongan. Sebanyak 39% responden pendapatan rendah makan mie, 41% golongan berpendapatan menengah makan mie, bahkan 33% golongan menengah ke atas juga makan mie. "Momentum branding juga akan menyasar produk lain seperti gadget dan pendidikan. Tapi yang akan paling berpengaruh adalah properti. Tahun lalu banyak yang beli rumah pertama tapi sekarang mereka ingin melakukan renovasi atas rumahnya," jelas Ella. Meski lebih lambat dibanding Indonesia, tapi tingkat optimisme China masih mencatat tren yang positif. "Kaum muda menjadi katalisator yang baik," tegas Karim Salamatian, Head of Non Japan Asia Consumer Equity Research Credit Suisse. Salamantian kembali menjelaskan, kaum muda di China semangat cari duit. Tapi, semangat hura-huranya juga kuat. Jadi, nanti merek seperti Budweiser, Apple, Samsung akan mengalami momentum penguatan branding. Untuk teknologi, Salamantian memprediksi akan ada kenaikan permintaan 18%. Sementara belanja pendidikan naik 13%. Bahkan, dalam dua tahun ke depan, rencana pembelian properti juga meningkat. 20% responden mengindikasikan akan membeli rumah dalam dua tahun ke depan, naik 4% dibanding tahun lalu.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Optimisme konsumen Indonesia lebih baik dari China
JAKARTA. Optimisme konsumen negara berkembang akan terus menguat tahun ini. Dari 14.200 responden di delapan negara berkembang yang disurvei Credit Suisse 39%-nya yakin kondisi keuangan pribadinya akan membaik dalam enam bulan ke depan. Kendati demikian, penyebaran optimisme tersebut dinilai kurang merata. Optimisme terbaik hanya dicatat oleh Brazil, China, Indonesia, dan Arab Saudi. Nah, dari keempat negara tersebut, hanya China dan Indonesia yang sedang menjadi sorotan dunia. Uniknya, tingkat optimisme Indonesia justru lebih tinggi dibanding China. Harapan tinggi atas kenaikan gaji ditengarai menjadi penyebab kenaikan optimisme tersebut. Di Indonesia, 57% responden yang memiliki pendapatan menengah yakin gaji bulanannya akan bertambah. Empat puluh persen responden dengan gaji eksklusif yakin gajinya akan naik di atas 10%. Hanya 3% yang pesimistis tidak ada perbaikan gaji. Sementara di China, 55% responden berpenghasilan menengah yakin pendapatannya akan meningkat 10%. Sisanya, 27% yakin pendapatannya naik di atas 10%, dan 55% pesimistis gajinya akan naik. Ella Nusantoro Vice President Credit Suisse menuturkan untuk kasus Indonesia, kenaikan tersebut akan mempengaruhi kinerja perusahaan produsen makanan dan minuman. "Bagi golongan menengah, urusan perut pasti jadi prioritas ketika mereka dapat duit tambahan," imbuhnya. Lebih jauh Ella mengungkapkan, momentum penguatan branding nantinya akan terjadi untuk produk makanan yang sudah populer semacam Indomie. "Meski jawaban mereka tidak ketika ditanya apakah mereka akan menambah konsumsi mie, tapi semua orang kan pasti makan mie," tukas Ella. Pernyataan Ella mengacu pada hasil survei yang menunjukkan konsumsi mie instan memang menyasar segala golongan. Sebanyak 39% responden pendapatan rendah makan mie, 41% golongan berpendapatan menengah makan mie, bahkan 33% golongan menengah ke atas juga makan mie. "Momentum branding juga akan menyasar produk lain seperti gadget dan pendidikan. Tapi yang akan paling berpengaruh adalah properti. Tahun lalu banyak yang beli rumah pertama tapi sekarang mereka ingin melakukan renovasi atas rumahnya," jelas Ella. Meski lebih lambat dibanding Indonesia, tapi tingkat optimisme China masih mencatat tren yang positif. "Kaum muda menjadi katalisator yang baik," tegas Karim Salamatian, Head of Non Japan Asia Consumer Equity Research Credit Suisse. Salamantian kembali menjelaskan, kaum muda di China semangat cari duit. Tapi, semangat hura-huranya juga kuat. Jadi, nanti merek seperti Budweiser, Apple, Samsung akan mengalami momentum penguatan branding. Untuk teknologi, Salamantian memprediksi akan ada kenaikan permintaan 18%. Sementara belanja pendidikan naik 13%. Bahkan, dalam dua tahun ke depan, rencana pembelian properti juga meningkat. 20% responden mengindikasikan akan membeli rumah dalam dua tahun ke depan, naik 4% dibanding tahun lalu.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News