Optimisme Pebisnis Korea Selatan Meningkat, Indeks Investasi Peralatan Melesat



KONTAN.CO.ID - SEOUL. Tingkat keyakinan pebisnis Korea Selatan terhadap prospek bisnis ke depan masih cukup tinggi. Belanja modal perusahaan untuk membeli alat produksi baru masih meningkat.

Berdasarkan data yang dipublikasikan Kementerian Data dan Statistik Korea Selatan, Senin (31/8/2026), tren investasi peralatan melonjak signifikan. Indeks investasi peralatan alias equipment investment index pada Juli tercatat naik 7,5% secara bulanan, bahkan melesat 24,9% secara tahunan.

Sekadar info, indeks investasi peralatan merupakan indikator statistik yang mengukur perubahan nilai atau volume belanja modal (capital expenditure) perusahaan-perusahaan untuk membeli peralatan produksi baru. Misalnya mesin-mesin pabrik, alat berat, dan peralatan transportasi.


Kenaikan indeks tersebut didorong oleh lonjakan investasi pada peralatan transportasi yang naik 32,7% secara tahunan. Nilai pesanan mesin domestik turut melonjak 25,4% secara tahunan, dengan kontribusi utama dari sektor manufaktur swasta yang tumbuh hingga 47,9%.

Baca Juga: Otomotif Jepang Berjaya di Dalam Negeri, Tapi Hadapi Tantangan Berat di Global

Di sisi produksi, Indeks Produksi Seluruh Industri alias Index of All Industry Production pada Juli masih tercatat tumbuh 3,1% dibandingkan tahun lalu. Kendati begitu, indeks ini stagnan alias tidak berubah dari bulan sebelumnya.

Sektor pertambangan dan manufaktur menjadi penopang, dengan produksi manufaktur naik tipis 0,2% secara bulanan dan 3,9% secara tahunan.

Namun sektor jasa justru terkontraksi 1,3% dari bulan sebelumnya, meski masih tumbuh 3,5% dibanding tahun lalu. Sementara sektor konstruksi kembali melemah dengan penurunan 1,1% secara bulanan dan turun 3,2% secara tahunan, akibat lesunya nilai konstruksi yang terealisasi.

Kenaikan optimism pebisnis Korsel tersebut terjadi di saat konsumsi rumah tangga justru menunjukkan pelemahan. Indeks Penjualan Ritel Korsel pada Juli 2026 anjlok 2,4% secara bulanan dan terkoreksi 0,8% secara tahunan.

Baca Juga: Penjualan Mobil dan Elektronik Lesu, Ritel Korea Selatan Minus 2,4% di Juli 2026

Pelemahan tahunan ini terbilang mengejutkan karena baru sebulan sebelumnya, pada Juni 2026, penjualan ritel masih tumbuh solid 3,9% secara tahunan.

Pelemahan konsumsi juga tampak dari data belanja barang tahan lama yang merosot 4,1% secara tahunan pada Juli. Ini berbalik arah dari lonjakan 10,3% yang tercatat pada Juni.

Kondisi ini mengindikasikan masyarakat Korea Selatan mulai menahan belanja untuk barang-barang bernilai besar, di saat dunia usaha justru semakin agresif menggelontorkan modal untuk ekspansi kapasitas produksi.

Meski demikian, indikator makro Korea Selatan secara keseluruhan masih menunjukkan arah ekspansi. Indeks Komposit Koinsiden, yang mencerminkan kondisi ekonomi terkini, naik 1,0% dari bulan sebelumnya menjadi 118,1 poin, sementara komponen siklikalnya naik 0,8 poin menjadi 101,2.

Baca Juga: AS Gempur Peluncur Roket Iran, Teheran Balas Tembak Rudal ke Yordania

Indeks Komposit Utama, yang menjadi acuan proyeksi arah siklus bisnis ke depan, juga tumbuh 0,8% menjadi 131,2 poin, dengan komponen siklikalnya naik 0,4 poin menjadi 104,2.

Kedua indeks ini mengisyaratkan optimisme bahwa perekonomian Korea Selatan masih berada dalam jalur ekspansi. Meski begitu, para ekonom kemungkinan akan mencermati apakah pelemahan penjualan ritel Juli ini bersifat sementara atau awal dari tren pelambatan konsumsi yang lebih panjang.