Optimisme pebisnis melambat di kuartal III



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi bisnis di Tanah Air pada kuartal II-2018 tumbuh pesat dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun, pertumbuhan bisnis bakal melambat pada kuartal III-2018, sebagai efek perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada triwulan II 2018 mencapai 112,82. Level itu menjadi yang tertinggi dibandingkan kuartal sebelumnya (lihat tabel). ITB di atas 100 menunjukkan optimisme pebisnis yang mendukung ekspansi usaha.

Pada triwulan II-2018, semua lapangan usaha menunjukkan ekspansi, mulai dari sisi pendapatan usaha, penggunaan kapasitas produksi, hingga jumlah jam kerja. Hanya, sektor administrasi pemerintahan, real estate, dan penggalian memiliki ITB di bawah 100, karena efek puasa dan libur Lebaran.


Sedangkan pada kuartal III-2018, ekspansi usaha diperkirakan melambat dengan perkiraan ITB sebesar 106,05. "Kami tanyakan persepsi pengusaha di triwulan III. Masih di atas 100, masih optimistis. Tapi, ada sedikit berkurang optimismenya kalau dibandingkan triwulan II-2018," kata Suhariyanto, Kepala BPS, Senin (6/8).

Penurunan optimisme pengusaha terjadi lantaran adanya keraguan dengan order dari luar negeri. Namun pengusaha masih optimis order dari dalam negeri masih kuat, di angka 119,27. Pengusaha memperkirakan seluruh lapangan usaha akan terus tumbuh, kecuali transportasi dan pergudangan dan jasa lainnya yang cenderung stagnan.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat menilai, keraguan atas order dari luar negeri karena sentimen global. Ada isu pencabutan generalized system of preferences (GSP) AS atas produk unggulan Indonesia. "Ini membuat ketar-ketir para eksportir," kata Ade.

Ade berharap, langkah Kementerian Perdagangan (Kemdag) yang sigap menanggapi isu tersebut akan membuat perdagangan Indonesia tetap meningkat.

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gajah Mada Tony Prasetiantono mengatakan, isu perang dagang menurunkan optimisme pebisnis. "Hal itu memberi ketidakpastian. Timbul kekhawatiran volume perdagangan global akan menurun," kata Tony.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie