KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS), Oracle, berencana menghimpun dana hingga US$ 20 miliar melalui penerbitan obligasi dan penjualan saham. Langkah ini dilakukan untuk membiayai ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan (cloud) yang membutuhkan investasi besar. Berdasarkan dokumen regulator yang dirilis Senin (2/11/2026), dana hasil aksi korporasi tersebut akan digunakan untuk berbagai keperluan perusahaan.
Mulai dari belanja modal, pembayaran utang, akuisisi, pembagian dividen, hingga pembelian kembali saham (buyback). Rencana penggalangan dana ini mencerminkan besarnya kebutuhan modal Oracle untuk mengejar pertumbuhan bisnis AI dan cloud.
Baca Juga: Saham Microsoft dan Oracle Melonjak, Alphabet Terpuruk akibat Belanja AI Perusahaan menargetkan pendapatan lebih dari US$ 225 miliar pada tahun fiskal 2030, atau lebih dari tiga kali lipat dibandingkan pendapatan tahun fiskal 2026 sebesar US$ 67,36 miliar. Namun, rencana pendanaan tersebut justru diikuti tekanan terhadap saham Oracle. Pada perdagangan Senin, saham Oracle turun 8,8% menjadi US$ 119,22. Dengan demikian, saham perusahaan telah terkoreksi sekitar 39% sepanjang tahun ini. Bloomberg News melaporkan, mengutip sumber yang mengetahui transaksi tersebut, penjualan saham Oracle diperkirakan dibanderol US$ 116 per saham. Harga itu mencerminkan diskon sekitar 11% dibandingkan harga penutupan Jumat lalu. Sementara itu, penerbitan obligasi akan terdiri dari enam seri dengan jatuh tempo antara 2029 hingga 2046. Instrumen tersebut mencakup satu seri dengan bunga mengambang dan lima seri berbunga tetap. Namun, tingkat bunga, harga obligasi, serta jumlah saham yang akan diterbitkan belum ditetapkan.
Beban utang jadi perhatian investor
Besarnya kebutuhan pendanaan Oracle juga menjadi perhatian karena perusahaan telah memiliki beban utang yang signifikan. Per 31 Agustus, Oracle mencatatkan surat utang dan pinjaman lainnya sebesar US$ 125,34 miliar. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan pendapatan perusahaan pada tahun fiskal 2026 yang mencapai US$ 67,36 miliar. Investor juga mencermati kemampuan Oracle menghasilkan arus kas dari investasi AI yang terus meningkat. Apalagi, skala pendapatan bisnis cloud Oracle masih belum sebesar pesaingnya, Microsoft dan Amazon.
Baca Juga: Pendiri Oracle Larry Ellison Urungkan Rencana Penjualan Saham Selain itu, Oracle memiliki eksposur besar terhadap OpenAI, pengembang ChatGPT yang hingga kini masih mencatatkan kerugian. Oracle sebelumnya menyatakan belanja modal akan mencapai puncaknya pada tahun fiskal ini dan tahun fiskal berikutnya. Perusahaan juga berjanji membatasi tambahan pendanaan untuk kebutuhan AI hingga US$ 20 miliar sampai tahun fiskal 2030.
Di sisi lain, manajemen memberikan sinyal positif mengenai prospek arus kas. Chief Financial Officer Oracle Hilary Maxson menyampaikan bahwa perusahaan memperkirakan arus kas bebas (free cash flow) mulai positif pada paruh kedua tahun fiskal 2028. Pernyataan tersebut sempat mendorong saham Oracle melonjak sekitar 11% pada perdagangan Rabu pekan lalu. Meski demikian, kebutuhan pendanaan yang besar dan posisi utang perusahaan masih menjadi perhatian investor di tengah ambisi Oracle memperluas bisnis AI. “Oracle berjanji membatasi tambahan pendanaan untuk AI hingga US$ 20 miliar sampai tahun fiskal 2030,” demikian pernyataan perusahaan.