KONTAN.CO.ID - Organisasi hak asasi manusia FairSquare mendesak FIFA menyatakan Gianni Infantino tidak memenuhi syarat untuk kembali mencalonkan diri sebagai presiden karena dinilai telah menjalani batas maksimal tiga periode. Infantino diperkirakan akan mencalonkan diri kembali untuk periode 2027-2031. Pemilihan presiden FIFA dijadwalkan berlangsung dalam Kongres FIFA di Maroko pada 18 Maret 2027.
FairSquare menilai pencalonan Infantino untuk periode keempat bertentangan dengan statuta FIFA yang membatasi presiden maksimal tiga periode.
Baca Juga: Kota Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Disebut Belum Terima Dana dari FIFA Periode Pertama Infantino Jadi Persoalan
Infantino pertama kali menjadi Presiden FIFA pada 2016 setelah terpilih dalam Kongres Luar Biasa menyusul pengunduran diri Sepp Blatter. Namun, pada 2022, Infantino berhasil mendapatkan keputusan bahwa periode pertamanya tidak dihitung sebagai masa jabatan. Alasannya, periode 2016-2019 dianggap sebagai penyelesaian masa jabatan yang sebelumnya terputus. Mengutip
Reuters, FairSquare menilai interpretasi tersebut tidak sesuai dengan statuta FIFA. Dalam surat kepada
Governance, Audit and Compliance Committee (GACC) FIFA, organisasi tersebut meminta keputusan itu ditinjau kembali. Direktur FairSquare, Nicholas McGeehan, mengatakan aturan FIFA secara jelas menetapkan tiga periode sebagai batas maksimal. "Pengaduan yang kami ajukan memberikan bukti jelas bahwa ini merupakan pelanggaran terhadap aturan dan menciptakan preseden yang sangat berbahaya," kata McGeehan kepada
Reuters. McGeehan menegaskan bahwa aturan tersebut dengan jelas menyatakan bahwa tiga periode sebagai presiden merupakan batas maksimal. "FIFA tidak bisa begitu saja menghindari aturan ini dengan mengatakan bahwa periode pertamanya tidak dihitung," lanjutnya.
Baca Juga: UEFA vs FIFA Memanas: Ini Daftar Konflik Besar Keduanya FIFA Pernah Tegaskan Infantino Bisa Maju Lagi
Pada Desember 2022, Dewan FIFA secara bulat mengonfirmasi bahwa periode 2016-2019 tidak dihitung sebagai satu periode masa jabatan Infantino. Keputusan tersebut menjadi dasar bagi Infantino untuk tetap dapat mencalonkan diri setelah menjalani masa kepemimpinan sejak 2016. FIFA juga mengonfirmasi pada Senin (17/8) bahwa hubungan kerja dengan
Chief Operating Officer Kevin Lamour telah berakhir, beberapa pekan setelah Lamour secara terbuka mengkritik proposal Infantino.
Baca Juga: Bos LaLiga Javier Tebas Kritik FIFA: Era Infantino Harus Berakhir Organisasi HAM Pertanyakan Transparansi FIFA
FairSquare juga mempersoalkan transparansi keputusan FIFA pada 2022. "Fakta bahwa mereka tidak memberikan alasan untuk mendukung klaim tersebut, dan bahwa mereka mengumumkan keputusan tersebut dua hari sebelum final Piala Dunia Qatar 2022, menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tahu tidak ada dasar untuk mengabaikan periode pertama Infantino," ujarnya.
Surat kepada GACC tersebut disusun dengan bantuan Miguel Maduro, mantan kepala F
IFA Independent Governance and Review Committee. Maduro mengatakan FIFA tidak dapat mengabaikan aturan yang dibuatnya sendiri. "Upaya membuat pengecualian terhadap aturan tersebut untuk Mr. Infantino menunjukkan penolakan terhadap prinsip pembatasan masa jabatan dan bagaimana sebagian pihak di FIFA memandang aturan bukan sebagai aturan, melainkan sebagai hambatan yang harus diakali," pungkasnya.
Baca Juga: FIFA Akhirnya Cairkan Hadiah Timnas Yordania yang Tertunda 8 Bulan