KONTAN.CO.ID - TOKYO. Sektor otomotif Jepang masih cukup berjaya di dalam negeri. Bahkan sektor ini menjadi faktor penting yang mendorong pertumbuhan penjualan ritel di Jepang pada periode Juli. Data Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang (METI) yang dirilis Senin (31/8/2026) menunjukkan, berdasarkan jenis usaha, pertumbuhan penjualan ritel terutama ditopang oleh penjualan kendaraan bermotor. Menurut data METI, pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor mencapai 16,2% pada periode tersebut. Pertumbuhan ini jauh melampaui pertumbuhan keseluruhan penjualan ritel sebesar 4,0%.
Bandingkan dengan penjualan peralatan mesin dan perlengkapan yang hanya meningkat 6,3%. Sementara penjualan berbagai jenis barang, yang mencakup antara lain
department store, naik 3,1%. Penjualan ritel tanpa toko, yang antara lain mencakup perdagangan melalui kanal non-toko, meningkat 2,9%. Penjualan obat-obatan dan kosmetik tumbuh 1,6%, sedangkan penjualan makanan dan minuman meningkat 1,1%.
Baca Juga: Penjualan Mobil dan Elektronik Lesu, Ritel Korea Selatan Minus 2,4% di Juli 2026 Sektor pakaian, tekstil dan aksesori bahkan masih mengalami tekanan. Penjualannya turun 6,6% secara tahunan. Penjualan bahan bakar juga belum menunjukkan pertumbuhan dan tercatat stagnan dibandingkan tahun sebelumnya. Kendati masih unggul di dalam negeri, sektor otomotif Jepang menghadapi ketidakpastian ke depan. Penyebabnya antara lain persaingan yang ketat di sektor otomotif global dan kebijakan tarif pemerintah Amerika Serikat (AS). Sekadar mengingatkan, tiga produsen mobil terkemuka Jepang melaporkan penjualan di China turun tajam selama paruh pertama tahun 2026. Di periode tersebut, Toyota hanya menjual 694.700 kendaraan, turun 17,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Nissan mencatat penjualan sebanyak 237.000 unit, turun 15%. Honda mengalami penurunan paling tajam dengan penjualan hanya 205.800 kendaraan. Angka tersebut merosot 34,7%, akibat lambatnya peluncuran model baru.
Baca Juga: Toyota dan Honda Terancam Tanggung Beban Tarif Trump kepada Kanada Khusus di Juni, ketiga produsen mobil tersebut mencatat penjualan menurun. Honda bahkan telah mengalami penurunan penjualan selama 29 bulan berturut-turut di China. Penurunan penjualan tersebut sebagian disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar akibat ketegangan di Timur Tengah. Kondisi ini menekan permintaan terhadap mobil berbahan bakar bensin di China. Produsen mobil Jepang terlalu mengandalkan mobil hibrida konvensional, sehingga melewatkan permintaan pasar akan mobil
plug-in hybrid dan kendaraan listrik murni. Lambatnya pengembangan model, kurangnya adaptasi lokal yang memadai, serta sistem pintar yang ketinggalan zaman, membuat produsen otomotif Jepang gagal menarik minat pembeli dari kalangan muda. Kini, produsen otomotif Jepang juga harus berhadapan dengan kebijakan tarif Donald Trump. Presiden AS tersebut berniat menaikkan tarif impor mobil dari Kanada jadi 50%. Toyota Motor dan Honda Motor menjadi dua produsen yang paling rentan terdampak, karena sebagian besar produksi mobil Kanada berasal dari kedua perusahaan tersebut.
Baca Juga: Konsumsi Makin Kuat, Penjualan Ritel Jepang Tumbuh 4% di Juli 2026 Trump menargetkan penerapan tarif baru tersebut mulai 1 Januari 2027. Jika kebijakan itu benar-benar diberlakukan, Toyota dan Honda diprediksi berpotensi menutup sejumlah lini produksi di Kanada. Menurut analis Barclays, seperti dikutip
Reuters, Senin (31/8/2026), mobil yang diproduksi di Kanada menyumbang hampir seperempat penjualan Honda di AS dan 17% penjualan Toyota pada tahun lalu. Persentase tersebut merupakan yang tertinggi di antara produsen otomotif besar. Dengan demikian, Toyota dan Honda berpotensi menghadapi dampak terbesar dari rencana Trump untuk menggandakan tarif impor mobil dari Kanada, dari saat ini sebesar 25% menjadi 50%.