JAKARTA. Anjloknya penjualan mobil dan motor membuat industri produsen suku cadang atawa spare part ikut kelimpungan. Mereka mengalami penurunan penjualan kepada pabrikan otomotif, sementara penjualan suku cadang ke pasar after market juga lesu seiring melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi ini memaksa pengusaha merumahkan karyawan, bahkan sebagian telah memutuskan kontrak kerja karyawan yang masih berstatus non karyawan tetap. Mereka juga sudah lama menghapuskan jam kerja lembur. "Penjualan ke aftermarket turun sekitar 20%-30% jika dibandingkan dengan tahun lalu," kata Hadi Suryadipradja, Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-Alat Mobil dan Motor (GIAMM), Selasa (29/9). Hadi tak memiliki perincian data penjualan kepada pabrikan otomotif, hanya saja prosentasenya tak jauh beda dengan penurunan penjualan mobil dan motor tahun ini.
Otomotif lesu, cuan komponen terpangkas
JAKARTA. Anjloknya penjualan mobil dan motor membuat industri produsen suku cadang atawa spare part ikut kelimpungan. Mereka mengalami penurunan penjualan kepada pabrikan otomotif, sementara penjualan suku cadang ke pasar after market juga lesu seiring melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi ini memaksa pengusaha merumahkan karyawan, bahkan sebagian telah memutuskan kontrak kerja karyawan yang masih berstatus non karyawan tetap. Mereka juga sudah lama menghapuskan jam kerja lembur. "Penjualan ke aftermarket turun sekitar 20%-30% jika dibandingkan dengan tahun lalu," kata Hadi Suryadipradja, Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-Alat Mobil dan Motor (GIAMM), Selasa (29/9). Hadi tak memiliki perincian data penjualan kepada pabrikan otomotif, hanya saja prosentasenya tak jauh beda dengan penurunan penjualan mobil dan motor tahun ini.