JAKARTA. Poundsterling tak berotot di hadapan sejumlah mata uang dunia. Ini menambah panjang daftar beban negatif poundsterling yang jelas kontras dengan proyeksi positif The Fed akan ekonomi AS tahun depan. Mengutip Bloomberg, Rabu (28/12) pukul 17.45 WIB pasangan GBP/USD merosot 0,27% di level 1,2238 dibanding hari sebelumnya. Lalu, pukul 18.30 WIB pasangan GBP/JPY tergelincir 0,05% di level 144,02 dibanding hari sebelumnya. Sri Wahyudi, Research and Analyst PT Garuda Berjangka menuturkan pelemahan utama datang setelah data persetujuan mortgage di Inggris November 2016 turun dari 40.800 menjadi 40.700. Hal ini menambah panjang beban yang dipikul oleh poundsterling.
Sementara USD sendiri masih dibalut oleh sajian data ekonomi memuaskan. Seperti tingkat kepercayaan konsumen AS November 2016 yang tumbuh dari 109,4 menjadi 113,7 atau merupakan level tertingginya sejak 2011 lalu. Lalu indeks manufaktur Richmond AS juga tumbuh dari 4 menjadi 8. Tentunya masih belum ada alasan bagi poundsterling untuk menaklukkan USD. “Walau memang USD sedikit terpapar koreksi teknikal, tapi fundamental Inggris yang buruk membuat poundsterling tidak berdaya,” jelas Wahyudi. Hanya saja pelemahan tergolong terbatas sebab minimnya aktivitas perdagangan di pasar jelang libur akhir tahun. Berkaca dari data ekonomi yang akan rilis besok, peluang pelemahan GBP/USD masih akan terbuka. Hanya saja rentangnya akan semakin menyempit. Bahkan bukan tidak mungkin terjadi rebound terbatas. “Karena pasar menanti data klaim pengangguran mingguan AS yang diduga kembali naik,” ujar Wahyudi. Diprediksi angka tersebut bertambah dari 275.000 menjadi 277.000. Jika benar tentunya ada alasan semakin kuat di pasar untuk melakukan profit taking terhadap USD yang saat ini levelnya tergolong cukup tinggi. “Pasar yang semakin sepi membuat pelaku pasar yang tersisa kerap melakukan spekulasi dan ini bisa membuat pergerakan cenderung konsolidasi karena tarik menarik juga,” tambah Wahyudi.
Dari sisi teknikal terlihat pasangan GBP/USD masih bergerak di bawah moving average (MA) 100 yang terus mendorong pelemahan. Garis moving average convergence divergence (MACD) di area minus 0,0696 juga berpola downtrend. Hanya saja relative strength index (RSI) level 35 dan stochastic level 22 keduanya sudah masuk area oversold dan mendukung rebound jangka pendek. “Lebih baik
hold karena pasar sepi setidaknya sampai akhir pekan,” saran Wahyudi. Walau berkaca dari jabaran pergerakan di pasar tidak menutup kemungkinan untuk sell lanjutan. Hanya saja Wahyudi mengatakan pertimbangkan level support di kisaran 1,2216 – 1,2245 dan resistance antara 1,2295 – 1,2341. Anthonius Edyson, Research and Analyst PT Astronacci International berpendapat, yen didukung data produksi industri Jepang November 2016 yang tumbuh dari 0,0% menjadi 1,5% dan penjualan ritelnya yang naik dari minus 0,2% menjadi 1,7%. “Maka tidak heran terjadi penguatan terbatas,” tambah Anthonius. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News