Otot rupiah tahun ini diperkirakan lebih kuat



JAKARTA. Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah sepanjang tahun ini masih akan mengalami penguatan. Gubernur BI Agus Martowardojo bilang, keyakinan itu salah satunya dapat dilihat dari daya tahan Indonesia saat ini yang lebih kuat.

Misalnya dilihat dari inflasi tahun lalu yang terjaga di 3,02% year on year (YoY), surplus neraca perdagangan yang mendorong surplus neraca pembayaran US$ 12 miliar, hingga pertumbuhan ekonomi tahun lalu yang membaik menjadi 5,02%.

Selain inflasi yang terjaga, daya tahan ekonomi yang lebih kuat juga terjadi seiring dengan kewajiban penggunaan rupiah. Sejak BI mengeluarkan Peraturan BI Nomor 17/3/PBI/2015 pada Juli 2015 lalu, membuat besaran transaksi valas di Indonesia menjadi lebih rendah, yaitu US$ 1,3 miliar per bulan dari sebelumnya US$ 8 miliar per bulan.


Daya tahan Indonesia yang lebih kuat membuat nilai tukar rupiah akhir tahun lalu terapresiasi 2,34% year to date (ytd). Padahal di saat yang bersamaan, pasar keuangan global mengalami guncangan akibat terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS), dan banyak mata uang negara-negara di dunia yang mengalami depresiasi. "Di 2017, rupiah bisa menguat di kisaran 1%," kata Agus, Kamis (12/4) lalu.

Apalagi menurut Agus, hingga pekan kedua April 2017, modal asing yang masuk pasar keuangan domestik (capital inflow) sebesar Rp 81 triliun. Angka itu lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di 2016 yang Rp 60 triliun. "Dana dari luar itu mau beli aset kita dalam bentuk apa saja. Tetapi kami harus tetap waspada," katanya.

Namun keyakinan BI tersebut bertolak belakang dengan pemerintah. Sebab, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam outlook asumsi APBN tahun 2017, memperkirakan rata-rata kurs rupiah tahun ini Rp 13.500 per dollar AS, lebih rendah dari asumsi dalam APBN 2016 yang sebesar Rp 13.300 per dollar AS.

Pelemahan nilai tukar rupiah itu juga sejalan dengan perkiraan inflasi tahun ini menjadi 4,5%, lebih tinggi dari asumsi APBN 2017 yang 4%.

Ekonom Maybank Indonesia Juniman juga memperkirakan nilai tukar rupiah tahun ini berada di kisaran Rp 13.400 per dollar AS. Dia bilang dollar AS memang berpotensi untuk menguat tahun ini, tetapi pemerintah AS tidak akan membiarkan penguatan dollar terlalu tajam.

Di sisi lain, ia juga memperkirakan adanya kenaikan inflasi di tahun ini. Kenaikan inflasi disebabkan oleh kenaikan harga yang diatur pemerintah. Namun kenaikan inflasi hanya bersifat temporer, bukan mencerminkan fundamental ekonomi.

Namun jika Standard and Poor's (S&P) benar-benar menaikkan peringkat utang Indonesia menjadi layak investasi (investment grade), nilai tukar rupiah akan lebih kuat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto