KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Tekanan di pasar saham perbankan kian nyata. Berbagai problema domestik yang seolah tak kenal waktu susul-menyusul bermunculan, menjatuhkan optimisme pasar dan, pada gilirannya, mendorong keluar investor asing. Pada akhir perdagangan Jumat (24/4/2026), saham bank berkapitalisasi pasar jumbo alias big banks kompak loyo. Beberapa di antaranya bahkan menyentuh titik harga terendahnya selama tiga tahun. Lihat saja saham PT Bank Central Asia Tbk (
BBCA) yang longsor 25,08% sejak awal tahun ke harga Rp 6.050 dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (
BBRI) sebesar 16,12% menjadi Rp 3.070. Posisi harga itu juga menjadi yang terendah bagi keduanya dalam tiga tahun terakhir.
Baca Juga: Jalani Stress Test, Bank Siap Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (
BBNI) ditutup di harga Rp 3.770 dan PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI) di Rp 4.500, masing-masing terkoreksi 13,73% dan 11,76% sejak awal tahun. Kalau ditelisik, tren itu sejalan dengan kaburnya asing dari pasar saham masing-masing bank. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, sejak 30 Desember 2025 hingga 31 Maret 2025, kepemilikan investor asing di
big banks kompak turun dengan rincian: BBNI turun 8,09%, BBCA turun 7,04%, BMRI turun 2,26%, dan BBRI turun 1,4%. Dana yang keluar juga tak main-main jumlahnya. BBCA memegang posisi net sell asing terbesar sejak awal tahun dengan catatan Rp 24,27 triliun, menyusul BBRI sebesar Rp 6,81 triliun, kemudian BMRI Rp 5,88 triliun, dan BBNI Rp 2,57 triliun. Menariknya, sejatinya kinerja para
big banks terbilang solid sejak awal tahun ini, apalagi para bank milik negara (Himbara) yang kedapatan penugasan sehingga penyaluran kreditnya otomatis terdorong.
Baca Juga: Kredit Konsumer Perbankan Melambat, Tanda Daya Beli Masyarakat Melemah? Menurut Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya, itu karena saat ini capaian kinerja bukan sentimen utama yang dicermati pasar. Andrey melihat kini pasar lebih fokus pada berbagai risiko yang membayangi sektor perbankan. “Tekanan harga lebih mencerminkan kekhawatiran, bukan pelemahan fundamental,” jelasnya kepada Kontan, Jumat (24/3/2026). Ia bilang salah satu pemicunya adalah arah kebijakan dan potensi penugasan pemerintah, terutama pada Himbara. Program pembiayaan tertentu atau intervensi ke sektor prioritas rupanya justru menimbulkan persepsi risiko pada kualitas aset, margin, dan disiplin penyaluran kredit. Meski kini dampaknya belum terlihat nyata, menurutnya pasar kini sudah cenderung mengambil langkah antisipasi awal. Di luar itu, BCA yang relatif independen ikut terkoreksi karena sektor perbankan memang sering menjadi cerminan utama sentimen makro. Saat terjadi
risk-off, Andrey bilang investor biasanya melakukan pengurangan eksposur secara menyeluruh, termasuk pada saham berkualitas. Memang, menurut Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, faktor yang lebih mendorong investor asing meninggalkan pasar Indonesia saat ini datang dari internal. Ia melihat krisis kredibilitas terjadi begitu MSCI membekukan tinjauan indeksnya pada periode Mei 2026. “Itu merupakan pukulan telak, seiring munculnya kekhawatiran global Indonesia turun kelas menjadi frontier market karena isu likuiditas dan intervensi pasar yang terlalu dalam,” kata Nafan. Kekhawatiran bertambah begitu Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa menolak bantuan IMF di tengah depresiasi rupiah. Di mata global, tawaran bantuan IMF sudah mengindikasi krisis. Penolakan, apalagi ketika cadangan devisa sedang diuji untuk intervensi kurs, justru membuat investor asing merasa Indonesia sedang berspekulasi tanpa jaring pengaman global. Itu pula yang mendorong lembaga keuangan global menaikkan
Country Risk Premium. Padahal, pelemahan kurs rupiah sendiri sudah menjadi persoalan berat. Nafan menjelaskan, setiap penurunan rupiah umumnya tak sebanding dengan kenaikan harga saham. “Kenaikan harga saham 5% pun tak ada artinya jika rupiah melemah 7%. Investor merugi kurs,” kata Nafan. Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menambahkan, pelemahan rupiah membuat nilai dividen yang ditawarkan bank juga jadi kurang menarik lantaran nilai konversinya ke mata uang asat otomatis menyusut. Menurutnya, ini adalah situasi yang tak bisa diabaikan oleh
fund manager asing dengan
benchmark return dalam mata uang keras. Ditambah lagi, setiap pelemahan Rp 100 per dolar berpotensi menambah defisit anggaran hingga Rp 800 miliar. “Itu artinya ruang fiskal pemerintah untuk menstabilkan situasi semakin sempit, dan ini pun ikut terbaca negatif oleh pasar,” jelas Hendra. Secara teknikal, Hendra bilang, “Kondisinya masih mencemaskan.” Ia melihat sinyal
sell on strength dengan proyeksi harga terendah BBCA di Rp 5.800, BBRI di Rp 2.800, BMRI di Rp 4.200, dan BBNI di Rp 3.500.
Hendra memproyeksi, selama rupiah masih melemah, ketidakpastian global masih tinggi, dan penugasan bank BUMN belum nampak mudaratnya, maka tekanan jual berpotensi berlanjut. Ia menjelaskan bahwa
bottom sejati biasanya baru terbentuk ketika "berita buruk terakhir" sudah diserap pasar sepenuhnya. Sejauh ini, Hendra melihat berita buruk tersebut belum datang. Namun begitu, Nafan menilai saham
big banks secara teknikal berpotensi naik. Ia merekomendasikan
buy on weakness untuk BBCA dan BBRI, dengan support dan resistance terdekat masing-masing di Rp 5.950 dan Rp 6.357 serta Rp 3.070 dan Rp 3.380. Kemudian accumulative buy untuk BBNI dan BMRI masing-masing di support dan resistance terdekat Rp 3.660 dan Rp 3.810 serta Rp 4.630 dan Rp 4.920. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News