Outlook 2027, Dunia Usaha Siapkan Jurus Ini untuk Hadapi Ketidakpastian Global



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dunia usaha Indonesia menghadapi tantangan menjaga pertumbuhan bisnis pada 2027 di tengah ketidakpastian geopolitik, disrupsi teknologi, dan perubahan kebijakan. 

Untuk menjaga minat investasi, pelaku usaha menilai penguatan daya saing dan kepastian hukum menjadi faktor penting dalam menentukan arah ekspansi perusahaan.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan, dunia usaha perlu menyiapkan strategi untuk menghadapi perubahan lanskap ekonomi global. 


Menurut dia, pelaku usaha perlu bertumpu pada tiga pilar, yakni crisis, competition, dan compassionatau ketahanan menghadapi krisis, peningkatan daya saing, serta kolaborasi untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif.

"Untuk menghadapi tantangan ini sekaligus mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%, dunia usaha perlu berpijak pada tiga pilar utama: Crisis, Competition, dan Compassion," ujarnya acara Outlook 2027: Winning The Next Growth Cycle yang digelar di Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Baca Juga: Jika Pelemahan Rupiah Berlanjut Akhir Tahun, Defisit APBN Bisa Melebar

Dalam pemaparannya bertajuk Winning the Next Growth Cycle, Anindya menjelaskan bahwa dunia usaha kini menghadapi tekanan secara bersamaan, mulai dari konfrontasi geoekonomi, perlambatan ekonomi, risiko iklim ekstrem, hingga disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).

Di tengah kondisi tersebut, perusahaan perlu menjaga struktur keuangan dan arus kas (cash flow) agar mampu bertahan sekaligus menangkap peluang baru. Anindya menilai krisis juga dapat memunculkan pergantian pemain yang unggul di pasar, bergantung pada kemampuan perusahaan beradaptasi.

Selain ketahanan bisnis, peningkatan daya saing menjadi tantangan bagi Indonesia. Anindya menyoroti posisi Indonesia yang berada di peringkat ke-48 dari 70 negara dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026. 

Menurut dia, peningkatan produktivitas, inovasi, dan efisiensi bisnis diperlukan untuk mendorong Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap).

"Namun, strategi pertumbuhan tidak hanya bergantung pada kesiapan perusahaan. Kepastian regulasi juga menjadi perhatian pelaku usaha dalam menyusun rencana investasi jangka panjang," jelasnya.

Konsistensi Kebijakan

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Alumni Prasetiya Mulya (IKA Prasmul) sekaligus President CEO Club Edy Sutrisman mengatakan, konsistensi regulasi menjadi salah satu pertimbangan investor dalam menanamkan modal di Indonesia.

“Kalau saya melihatnya, yang pertama seperti tadi dibahas bahwa memang kepastian hukum itu penting. Regulasi yang tidak berubah-ubah itu menjadi sesuatu yang menjadi daya tarik investor ketika ingin memasukkan investasinya ke Indonesia,” ujar Edy.

Menurut Edy, daya tarik investasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya pasar dan peluang pertumbuhan, tetapi juga oleh kemampuan investor memperkirakan risiko bisnis. Perubahan regulasi yang sulit diprediksi dapat menambah ketidakpastian dalam menyusun proyeksi usaha dan menentukan kelayakan investasi.

Kepastian tersebut dibutuhkan untuk berbagai keputusan strategis perusahaan, mulai dari pembangunan fasilitas produksi, perekrutan tenaga kerja, ekspansi pasar, hingga pengembangan produk. Dengan aturan yang lebih konsisten, pelaku usaha memiliki landasan lebih jelas untuk menyusun perencanaan bisnis jangka panjang.

Baca Juga: Rupiah Jebol Rp 18.000, Ekonom Ingatkan Defisit APBN Bisa Membengkak Rp 13,5 Triliun

Senada, CEO Prasetiya Mulya Executive Learning Institute (Prasmul-ELI) Citra Junika Siregar menilai kepercayaan menjadi elemen penting dalam menjaga aktivitas ekonomi. Karena itu, pemerintah diharapkan mampu memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pelaku usaha melalui keputusan serta kebijakan yang konsisten.

Citra juga menekankan pentingnya kemampuan perusahaan membaca perubahan global, termasuk perkembangan geopolitik dan teknologi. Menurut dia, perubahan lingkungan bisnis tetap dapat membuka peluang bagi perusahaan yang mampu merespons lebih cepat.

Di sisi lain, Kadin mendorong dunia usaha mempercepat adaptasi teknologi dan memperkuat kolaborasi untuk memperluas basis pertumbuhan. Salah satu fokusnya adalah penerapan human-centered AI, yakni pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendukung kemampuan manusia, meningkatkan produktivitas, dan membuka peluang pekerjaan berkualitas.

Kadin juga mendorong perusahaan besar memperkuat kemitraan dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan sekitar 63 juta unit usaha, UMKM mencakup 98% dari total unit usaha di Indonesia, menyerap 97% tenaga kerja nasional, dan menyumbang 61,9% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Penguatan kemitraan tersebut diharapkan dapat membantu UMKM meningkatkan kapasitas usaha, memperluas akses pasar global, serta masuk ke dalam rantai pasok yang lebih luas.

Berbagai tantangan tersebut menjadi pembahasan dalam forum Outlook 2027: Winning the Next Growth Cycle yang diselenggarakan Prasmul-ELI bersama IKA Prasetiya Mulya. 

Forum yang dihadiri lebih dari 200 pemimpin perusahaan, pemilik bisnis, dan komisaris dari berbagai industri itu membahas prospek investasi, kepemimpinan, serta kapabilitas organisasi untuk menghadapi siklus pertumbuhan berikutnya.

Bagi dunia usaha, persiapan menghadapi 2027 tidak hanya menyangkut kemampuan membaca prospek pasar, tetapi juga kesiapan mengelola risiko, menjaga kepastian perencanaan investasi, meningkatkan produktivitas, dan membangun daya saing di tengah perubahan ekonomi global.

Baca Juga: Indonesia Terancam Turun Kasta di MSCI, Ini Risiko bagi Rupiah dan Inflasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News