Outlook Negatif Danantara Bukan Cerminan Risiko Kredit Perusahaan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peringkat Baa2 dengan outlook negatif yang disematkan Moody’s Ratings terhadap obligasi global PT Danantara Investment Management (DIM) senilai US$ 5 miliar dinilai bukan mencerminkan pelemahan kredit perusahaan secara khusus. Penilaian tersebut lebih banyak mencerminkan keterkaitan erat Danantara dengan profil risiko kredit Pemerintah Indonesia.

Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman mengatakan, sebagai sovereign wealth fund (SWF), posisi Danantara tidak dapat dipisahkan dari kondisi fiskal dan peringkat utang negara. Karena itu, prospek negatif yang diberikan Moody’s terhadap Danantara merupakan konsekuensi langsung dari outlook negatif yang sebelumnya diberikan terhadap sovereign rating Indonesia.

Juniman menjelaskan outlook negatif yang disematkan Moody's tidak mencerminkan adanya penurunan kualitas kredit Danantara secara khusus. Menurutnya, prospek tersebut merupakan konsekuensi dari outlook negatif yang sebelumnya telah diberikan kepada sovereign rating Indonesia.


Baca Juga: Aliran Modal Asing Masuk US$ 8,5 Miliar di Kuartal II-2026, BI Pastikan Cadev Kuat

"Rating yang diberikan Moody's terhadap surat utang Danantara konsisten dengan rating Indonesia sebagai negara. Karena outlook sovereign Indonesia masih negatif, maka wajar jika outlook Danantara juga negatif," ujar Juniman kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).

Menurut Juniman, Danantara sebagai sovereign wealth fund membuat investor akan menilai instrumen utangnya hampir setara dengan Surat Berharga Negara (SBN). Dengan demikian, premi risiko yang diminta investor tidak akan berbeda jauh dengan surat utang pemerintah.

Penilaian tersebut juga didukung oleh keputusan Moody's yang menetapkan peringkat Baa2 untuk obligasi senior tanpa jaminan (senior unsecured notes) berdenominasi dolar Amerika Serikat yang akan diterbitkan PT Danantara Investment Management melalui program Global Medium-Term Note (MTN) senilai US$ 5 miliar.

Meski memberikan peringkat layak investasi (investment grade), Moody's mempertahankan outlook negatif terhadap DIM, sejalan dengan prospek negatif pada peringkat utang Pemerintah Indonesia.

Dalam laporannya, Moody's menyebutkan peringkat DIM mencerminkan hubungan kredit yang sangat kuat dengan pemerintah Indonesia. Hal itu didukung oleh struktur kepemilikan, peran strategis DIM dalam Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), serta ekspektasi adanya dukungan luar biasa (extraordinary support) dari pemerintah apabila dibutuhkan.

Moody's juga menilai DIM telah memiliki akses pendanaan yang kuat. Selain menerbitkan obligasi global senilai US$ 1,5 miliar, perusahaan telah menghimpun dana Rp 68,4 triliun melalui Patriot Bonds serta memperoleh fasilitas revolving credit senilai US$ 10 miliar, dengan komitmen awal sebesar US$ 1 miliar.

Juniman memperkirakan imbal hasil (yield) obligasi global Danantara tenor 10 tahun akan berada di kisaran 6%, mengacu pada yield US Treasury yang saat ini sekitar 4,6% ditambah premi risiko Indonesia yang tercermin dari credit default swap (CDS) sekitar 1,5%.

Baca Juga: Keppres Rotasi Pejabat Kejagung Terbit, Kuntadi Resmi Jabat Jampidsus

Sementara itu, untuk tenor lima tahun, ia memperkirakan yield akan berada di kisaran 5,4% hingga 5,5%, atau sekitar 40 hingga 50 basis poin lebih rendah dibandingkan tenor 10 tahun.

"Kalau penerbitan di pasar internasional, acuannya tetap US Treasury ditambah CDS Indonesia. Jadi untuk tenor 10 tahun sekitar 6%, sedangkan tenor lima tahun berada di kisaran 5,4% sampai 5,5%," jelasnya.

Ia menambahkan, apabila Danantara menerbitkan surat utang di pasar domestik, tingkat imbal hasilnya juga diperkirakan akan bergerak mendekati yield SBN.

"Karena Danantara adalah sovereign wealth fund, pasar akan menilai yield-nya kurang lebih sama dengan SBN. Berbeda dengan obligasi korporasi yang biasanya menawarkan premi di atas SBN, Danantara tidak akan jauh dari acuan surat utang pemerintah," pungkas Juniman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News