KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah jeblok menjelang akhir April 2026. Rabu (29/4/2026), kurs rupiah di pasar
spot melemah Rp 83 atau 0,48% menjadi Rp 17.326 per dolar Amerika Serikat (AS). Kurs rupiah ditutup di level paling lemah sepanjang masa. Rupiah sempat menyentuh Rp 17.341 per dolar AS pada pukul 10.40 WIB tadi pagi. Sejalan, kurs rupiah Jisdor melemah Rp 79 atau 0,46% menjadi Rp 17.324 per dolar AS. Ini juga merupakan posisi Jisdor paling lemah sepanjang masa.
Baca Juga: Laba Emiten Haji Isam Jhonlin Agro (JARR) Turun 30% di Kuartal I-2026 Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut dari sisi eksternal, pasar tengah mencermati dinamika geopolitik dan pasokan energi global. Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk keluar dari kelompok produsen minyak OPEC, yang akan berlaku efektif per Jumat, dinilai menjadi sentimen negatif, di tengah ketidakpastian pasokan akibat konflik Iran. Menurut Ibrahim, langkah UEA ini menjadi pukulan bagi stabilitas pasar minyak global. Apalagi, AS juga dikabarkan akan memperpanjang blokade terhadap pelabuhan Iran, yang berpotensi memperpanjang gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. “Meskipun ada gencatan senjata dalam perang AS-Israel dengan Iran, konflik tersebut tetap buntu, sementara kedua pihak berupaya mengakhiri pertempuran secara formal, dengan Iran menutup arus pengiriman melalui Selat Hormuz dan AS memblokade pelabuhan Iran,” ujar Ibrahim, Rabu (29/4/2026). Kondisi tersebut mendorong harga minyak dunia tetap tinggi, yang pada akhirnya memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti sejumlah faktor yang menambah tekanan. Ia menyebut stagnasi pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% serta meningkatnya ketidakpastian kebijakan menjadi perhatian investor. Selain itu, keputusan lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif juga memperburuk sentimen pasar.
Baca Juga: Laba Emiten Haji Isam Jhonlin Agro (JARR) Turun 30% di Kuartal I-2026 Investor juga mencermati isu tata kelola Danantara, termasuk potensi penggunaannya untuk membiayai program pemerintah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terkait independensi dan orientasi komersial lembaga tersebut. “Beberapa isu potensial yang muncul adalah terkait dengan tata Kelola, ada kecenderungan pelaporan yang terkonsentrasi karena Danantara melapor langsung kepada presiden. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa Danantara berpotensi digunakan untuk membiayai program belanja Pemerintah,” imbuhnya. Ibrahim menuturkan, dalam melakukan penilaian, Fitch melihat kejelasan posisi Danantara sebagai
sovereign wealth fund. Jika sebuah entitas mengklaim sepenuhnya komersial, tetapi kenyataannya tidak, maka ekspektasi bisa meleset. Hal ini bisa menimbulkan kejutan, karena keputusan investasi bisa dipengaruhi aspek politik, bukan semata-mata imbal hasil.
Untuk perdagangan Kamis (30/4), Ibrahim menilai pasar akan fokus pada hasil rapat Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan diumumkan Kamis dini hari waktu Indonesia. Bank sentral AS diperkirakan akan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75%. Namun demikian, pelaku pasar akan lebih mencermati pernyataan The Fed terkait arah kebijakan ke depan, terutama dalam merespons kenaikan harga energi global. Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah pada Kamis (30/4) masih akan terbatas dengan kecenderungan melemah, dalam kisaran Rp 17.320 hingga Rp 17.380 per dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News