Outlook RI Negatif dari Moody’s,Pemerintah Jawab di Sarasehan Indonesia Economic 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings menurunkan outlook peringkat kredit Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, namun tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level Baa2, baik untuk mata uang lokal maupun asing.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Ekonomi Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, memang terdapat outlook peringkat kredit negatif dari Moody’s. Namun menurutnya perlu juga melihat rating dari seluruh lembaga internasional seperti S&P Global, dan  Fitch Ratings.

Nah, menjawab peringkat kredit negatif tersebut, ia membeberkan, pemerintah akan menggelar agenda Sarasehan Indonesia Economic Outlook 2026, pada Jumat, 13 Februari 2026 mendatang.


Baca Juga: Outlook Kredit RI Negatif: Danantara Siapkan Strategi Hadapi Moody's

Dalam agenda tersebut, pemerintah utamanya akan menjelaskan mengenai potensi peningkatan penerimaan negara, serta rencana kinerja Danantara.

“Oleh karena itu Bapak Presiden tadi minta agar kita membuat penjelasan yang lebih lengkap dalam bentuk Sarasehan Ekonomi yaitu Indonesia Economic Outlook yang akan diselenggarakan pada hari Jumat nanti,” tutur Airlangga usai mengadakan rapat terbatas dengan Presiden Prabowo, Rabu (11/2/2026).

Dalam kesempatan itu, pemerintah juga akan memaparkan berbagai program yang telah dihimpun.

Baca Juga: Moody's Pangkas Outlook Peringkat Kredit, Sinyal Risiko Fiskal & Makro Meningkat

Adapun dalam pernyataan resminya pada 5 Februari 2026, Moody’s menyebut perubahan outlook ini didorong oleh menurunnya prediktabilitas kebijakan, yang berpotensi melemahkan efektivitas kebijakan serta kualitas tata kelola pemerintahan. Jika tren ini berlanjut, kredibilitas kebijakan Indonesia yang selama ini menjadi penopang stabilitas makroekonomi, fiskal, dan sistem keuangan dinilai dapat tergerus.

Meski demikian, Moody’s menegaskan bahwa afirmasi peringkat Baa2 mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesiayang masih solid, didukung oleh kekuatan struktural seperti kekayaan sumber daya alam dan demografi yang menguntungkan, yang menopang pertumbuhan ekonomi jangka menengah. Kebijakan fiskal dan moneter yang relatif pruden juga dinilai tetap menjaga stabilitas makroekonomi.

Baca Juga: BI: Perubahan Outlook Moody’s Karena Risiko Kebijakan, Bukan Pelemahan Ekonomi

Selanjutnya: AFPI Proyeksikan Pembiayaan Fintech Lending Dapat Tumbuh Dobel Digit pada 2026

Menarik Dibaca: 6 Sumber Protein Anti Inflamasi yang Bagus untuk Dikonsumsi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News