LONDON. Ancaman kenaikan harga pangan dunia di depan mata. Oxfam memprediksi, harga pangan dunia akan meningkat dua kali lipat dalam 20 tahun ke depan akan menjadi kenyataan jika para pemimpin dunia mengambil langkah untuk merubah sistem pangan dunia. Pada 2030, rata-rata biaya panen akan meningkat antara 120% hingga 180%. Separuh dari kenaikan biaya itu akibat pemanasan global. Tentu, riset ini menjadi alarm bagi para pemimpin dunia untuk memperbaiki regulasi pangan dunia dan meningkatkan investasi yang bertujuan mengurangi dampak perubahan iklim ekstrem. "Sistem pasokan pangan dunia harus dirombak jika ingin mengatasi perubahan iklim, lonjakan harga pangan, kelangkaan lahan, air dan energi," ujar Barbara Stocking Direktur Eksekutif Oxfam. Dalam laporannya, Oxfam memberi panduan kepada para pemimpin dunia untuk bisa mengatasi permasalahan ini. Keempat saran itu antara lain :1. Meningkatkan transparansi pasar komoditi dan regulasi di bursa komoditi 2. Menghitung sumber daya alam untuk produksi pangan3. Mengakhiri kebijakan dalam mempromosikan biofuel4. Memberdayakan petani-petani kecil di daerah-daerah, khususnya pada pekerja wanita Di riset ini, Oxfam memaparkan negara seperti Guatemala, Azerbaijan dan Afrika Selatan sudah menghadapi krisis pangan. Sementara penduduk di India, harus mengeluarkan dana dua kali lipat dari pendapatan mereka untuk membeli makanan dibanding masyarakat di Inggris. Ke depannya, dalam acara United Nation Climate Summit di Afrika Selatan pada Desember 2011, para pemimpin dunia harus segera menerbitkan pendanaan untuk menurunkan efek perubahan iklim. "Dan memberi fasilitas pada dunia untuk menanam bahan pangan," ujar Stocking.
Oxfam: Harga pangan akan meningkat dua kali lipat di 2030
LONDON. Ancaman kenaikan harga pangan dunia di depan mata. Oxfam memprediksi, harga pangan dunia akan meningkat dua kali lipat dalam 20 tahun ke depan akan menjadi kenyataan jika para pemimpin dunia mengambil langkah untuk merubah sistem pangan dunia. Pada 2030, rata-rata biaya panen akan meningkat antara 120% hingga 180%. Separuh dari kenaikan biaya itu akibat pemanasan global. Tentu, riset ini menjadi alarm bagi para pemimpin dunia untuk memperbaiki regulasi pangan dunia dan meningkatkan investasi yang bertujuan mengurangi dampak perubahan iklim ekstrem. "Sistem pasokan pangan dunia harus dirombak jika ingin mengatasi perubahan iklim, lonjakan harga pangan, kelangkaan lahan, air dan energi," ujar Barbara Stocking Direktur Eksekutif Oxfam. Dalam laporannya, Oxfam memberi panduan kepada para pemimpin dunia untuk bisa mengatasi permasalahan ini. Keempat saran itu antara lain :1. Meningkatkan transparansi pasar komoditi dan regulasi di bursa komoditi 2. Menghitung sumber daya alam untuk produksi pangan3. Mengakhiri kebijakan dalam mempromosikan biofuel4. Memberdayakan petani-petani kecil di daerah-daerah, khususnya pada pekerja wanita Di riset ini, Oxfam memaparkan negara seperti Guatemala, Azerbaijan dan Afrika Selatan sudah menghadapi krisis pangan. Sementara penduduk di India, harus mengeluarkan dana dua kali lipat dari pendapatan mereka untuk membeli makanan dibanding masyarakat di Inggris. Ke depannya, dalam acara United Nation Climate Summit di Afrika Selatan pada Desember 2011, para pemimpin dunia harus segera menerbitkan pendanaan untuk menurunkan efek perubahan iklim. "Dan memberi fasilitas pada dunia untuk menanam bahan pangan," ujar Stocking.