KONTAN.CO.ID - Kekayaan para miliarder dunia mencapai rekor tertinggi baru pada tahun lalu, seiring dengan meningkatnya pengaruh ekonomi dan politik kelompok ultra-kaya tersebut. Hal ini disampaikan lembaga anti-kemiskinan Oxfam dalam laporan terbarunya yang dirilis pada Senin (19/1/2026). Dalam laporan yang bertepatan dengan pembukaan World Economic Forum (WEF) di Davos, Oxfam mencatat total kekayaan miliarder global melonjak 16% pada 2025 menjadi US$ 18,3 triliun.
Baca Juga: Saham Jepang Merosot, Investor Hadapi Risiko Geopolitik & Perang Dagang Baru Lonjakan ini memperpanjang kenaikan sekitar 81% sejak 2020, atau meningkat tiga kali lebih cepat dibandingkan laju sebelumnya. Peningkatan kekayaan tersebut terjadi di tengah kondisi yang kontras, di mana satu dari empat penduduk dunia masih kesulitan memenuhi kebutuhan makan secara rutin dan hampir setengah populasi global hidup dalam kemiskinan. Studi Oxfam yang mengacu pada berbagai riset akademik dan basis data, mulai dari World Inequality Database hingga daftar orang terkaya versi Forbes, menyoroti bahwa lonjakan kekayaan ini dibarengi dengan konsentrasi kekuatan politik yang semakin tajam. Oxfam menilai miliarder memiliki peluang 4.000 kali lebih besar dibandingkan warga biasa untuk menduduki jabatan politik.
Baca Juga: Bursa Australia Melemah di Awal Pekan Senin (19/1), Sektor Keuangan Menekan Indeks Oxfam juga mengaitkan lonjakan kekayaan terbaru dengan kebijakan di bawah pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang pada periode keduanya menurunkan pajak, melindungi perusahaan multinasional dari tekanan internasional, serta melonggarkan pengawasan terhadap praktik monopoli. Selain itu, melonjaknya valuasi perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) turut memberikan keuntungan besar bagi investor yang sudah sangat kaya. “Kesenjangan yang semakin melebar antara kelompok kaya dan masyarakat lainnya pada saat yang sama menciptakan defisit politik yang sangat berbahaya dan tidak berkelanjutan,” ujar Direktur Eksekutif Oxfam Amitabh Behar. Oxfam mendesak pemerintah di berbagai negara untuk menyusun rencana nasional pengurangan ketimpangan, menerapkan pajak yang lebih tinggi terhadap kekayaan ekstrem, serta memperkuat pembatas antara uang dan politik, termasuk dengan memperketat praktik lobi dan pendanaan kampanye.
Baca Juga: Dolar Tertekan Senin (19/1), Usai Trump Tingkatkan Ancaman Tarif soal Greenland Saat ini, pajak kekayaan baru diterapkan di sedikit negara seperti Norwegia, meskipun wacana serupa telah dibahas di sejumlah negara lain, termasuk Inggris, Prancis, dan Italia. Oxfam menghitung tambahan kekayaan miliarder sebesar US$ 2,5 triliun pada tahun lalu setara dengan total kekayaan yang dimiliki oleh 4,1 miliar orang termiskin di dunia. Jumlah miliarder global juga melampaui 3.000 orang untuk pertama kalinya tahun lalu. CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk bahkan tercatat sebagai individu pertama dengan kekayaan bersih menembus US$ 500 miliar. Behar memperingatkan bahwa banyak pemerintah kini “mengambil keputusan yang keliru dengan memanjakan elite”, termasuk melalui pemangkasan bantuan dan pelemahan kebebasan sipil.
Baca Juga: Pilpres Portugal: Sosialis Moderat dan Kandidat Kanan Jauh Melaju ke Putaran Kedua Laporan tersebut juga menyoroti semakin kuatnya kendali para ultra-kaya terhadap media konvensional maupun digital. Oxfam mencatat, miliarder kini menguasai lebih dari separuh perusahaan media besar dunia, termasuk kepemilikan oleh Jeff Bezos, Elon Musk, Patrick Soon-Shiong, serta konglomerat Prancis Vincent Bolloré.