Oxford: Pemulihan Pasar Global Butuh Waktu Meski Ada Gencatan Senjata AS-Iran



KONTAN.CO.ID - Oxford Economics memperkirakan pasar global akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih dari dampak konflik Timur Tengah, meskipun gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tetap bertahan.

Melansir Reuters Rabu (8/4/2026), sikap skeptis pelaku pasar dinilai masih akan membayangi, terutama karena kesepakatan gencatan senjata dinilai rapuh dan menyisakan sejumlah ketidakpastian teknis.

Saham di Asia dan Eropa sempat melonjak setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan tersebut.


Baca Juga: Harga Minyak Turun di Bawah US$100 Setelah Trump Umumkan Gencatan Senjata 2 Minggu

Namun, keberlanjutan penguatan pasar sangat bergantung pada normalisasi arus pengiriman energi melalui Selat Hormuz, yang berperan penting bagi pasar energi dan perekonomian global.

Kepala Riset Minyak dan Gas Oxford Economics Bridget Payne menyatakan bahwa meskipun skenario terbaik tercapai, pemulihan aliran fisik minyak akan berlangsung secara bertahap.

“Kesepakatan ini masih rapuh, detail operasional belum sepenuhnya jelas, dan bahkan dalam kondisi terbaik, aliran minyak kemungkinan pulih secara perlahan,” ujarnya dalam sebuah webinar.

Baca Juga: SpaceX Siap IPO dengan Valuasi US$1,75 Triliun, Jadi Perusahaan Publik Termahal AS

Payne menambahkan, pemulihan pasokan gas alam cair (LNG) diperkirakan berlangsung lebih lambat akibat kerusakan fasilitas gas di kawasan tersebut. Dampak ini terutama akan dirasakan oleh pasar Eropa dan Asia.

Sementara itu, Direktur Analisis dan Proyeksi Makro Oxford Economics, Ben May, menilai berakhirnya konflik dan penurunan harga minyak berpotensi meredam tekanan inflasi global.

Hal ini juga dapat mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga di Eropa serta mengembalikan ekspektasi pertumbuhan ekonomi ke level sebelum konflik, yakni sekitar Februari.

Untuk negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC), Oxford Economics memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi riil tahun 2026 sebesar 5,2 poin persentase.

Baca Juga: Pipa Minyak Arab Saudi yang Melewati Selat Hormuz Rusak Akibat Serangan Iran

Negara seperti Qatar, Kuwait, dan Bahrain diperkirakan menjadi yang paling terdampak.

Meski demikian, proyeksi pertumbuhan pada 2027 justru dinaikkan sebesar 3,2 poin persentase, dengan asumsi konflik benar-benar berakhir.

May menambahkan, meskipun pasar keuangan global sejauh ini cukup tangguh, ketidakpastian terkait gencatan senjata tetap berpotensi menjadi pemicu guncangan baru.

Di sektor riil, pariwisata menjadi salah satu yang paling terpukul. Ekonom dari unit pariwisata Oxford Economics, Aaron Goldring, memperkirakan pemulihan sektor ini akan memakan waktu berbulan-bulan.

Baca Juga: Gencatan Senjata 2 Pekan Disepakati, Jalan Damai AS-Iran Masih Terjal

Menurutnya, pembatalan penerbangan dan penutupan wilayah udara telah merusak persepsi keamanan, yang merupakan faktor krusial dalam industri pariwisata.

“Dampak terhadap sentimen bisa berlangsung hingga kuartal IV, seiring pembatalan penerbangan dan hilangnya persepsi keamanan yang sangat penting bagi sektor ini,” ujarnya.