KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street kembali mencatat reli kuat pada perdagangan Rabu (22/4/2026) waktu New York, dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq ditutup di level tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan ini didorong meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, setelah Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata, serta dukungan kuat dari musim laporan kinerja perusahaan yang secara umum lebih baik dari ekspektasi. Mengutip
Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 340,65 poin atau 0,69% ke level 49.490,03. S&P 500 menguat 1,05% ke 7.137,90, sementara Nasdaq Composite melesat 1,64% ke 24.657,57.
Trump menyebut perpanjangan gencatan senjata tersebut bersifat tanpa batas waktu setelah adanya permintaan dari mediator Pakistan.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Menguat Pasca Perpanjangan Gencatan Senjata AS-Iran Meski begitu, situasi di lapangan masih menyimpan ketegangan. Blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan Iran tetap diberlakukan, sementara Iran dilaporkan menyita dua kapal di Selat Hormuz, jalur strategis yang menangani sekitar 20% pasokan minyak dunia. Ketidakpastian di Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama investor, terutama karena setiap gangguan di wilayah tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi global. Ketua parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Baqer Qalibaf, bahkan menegaskan bahwa gencatan senjata penuh hanya akan masuk akal jika blokade dicabut. Namun di tengah risiko geopolitik itu, pasar justru menemukan momentum penguatan. Optimisme bahwa kesepakatan damai bisa tercapai dalam waktu dekat telah mendorong indeks saham utama AS bergerak naik dalam beberapa pekan terakhir, termasuk mengakhiri reli 13 hari beruntun Nasdaq pada awal pekan ini sebelum kembali melanjutkan penguatan.
Baca Juga: Wall Street Ditutup Melemah, Ketegangan AS-Iran Redam Optimisme Laba dan AI Di sisi lain, musim laporan keuangan menjadi pendorong penting reli pasar. Data dari LSEG menunjukkan pertumbuhan laba kuartal pertama diperkirakan mencapai sekitar 14%, sementara proyeksi laba S&P 500 untuk 2026 dan 2027 bahkan telah naik sekitar 4% sejak akhir Januari menurut Goldman Sachs. Sektor teknologi kembali menjadi motor utama penguatan dengan kenaikan sekitar 2,31%, menjadikannya sektor dengan performa terbaik di antara 11 sektor utama S&P 500. Saham-saham semikonduktor menjadi sorotan, termasuk Micron Technology yang melonjak 8,48% dan ditutup di rekor baru. Indeks Philadelphia Semiconductor bahkan mencatat rekor intraday untuk sesi ke-11 berturut-turut dan membukukan kenaikan 16 hari beruntun, rekor terpanjang sepanjang sejarahnya. Sentimen positif juga datang dari saham Seagate yang naik 3,57% setelah Barclays menaikkan rekomendasi menjadi overweight. Dari sektor lain, GE Vernova menjadi salah satu bintang utama setelah melonjak 13,75% usai menaikkan proyeksi pendapatan tahunannya.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Menguat Selasa (21/4), Dipicu Optimisme AI dan Laba Emiten Boston Scientific juga menguat 8,99 persen setelah laporan kuartalan yang solid. Sementara Boeing naik 5,53 persen dan menjadi pendorong terbesar Dow setelah mencatat kerugian yang lebih kecil dari perkiraan. Sebaliknya, United Airlines justru tertekan dan turun 5,58% setelah memberikan proyeksi laba yang lebih lemah dari ekspektasi pasar akibat tekanan harga bahan bakar jet yang meningkat. Setelah penutupan pasar, Tesla juga mencatat kenaikan sekitar 4,6% dalam perdagangan setelah jam bursa, didorong oleh laporan arus kas bebas positif yang mengejutkan pada kuartal pertama. Di sisi lain, saham Spirit Airlines melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 1,50 dolar AS di pasar over-the-counter, menyusul laporan bahwa pemerintahan Trump hampir mencapai kesepakatan penyelamatan bagi maskapai berbiaya rendah tersebut.
Baca Juga: Bursa Wall Street Tancap Gas usai Iran Buka Selat Hormuz Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik masih lebih banyak dibanding yang turun dengan rasio 1,61 banding 1 di New York Stock Exchange dan 1,81 banding 1 di Nasdaq. Volume perdagangan mencapai 16,08 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20 hari terakhir sebesar 18,3 miliar saham. Meski risiko geopolitik dan potensi tekanan inflasi akibat harga minyak yang mendekati US$ 100 dolarper barel masih membayangi, pasar saat ini tampak lebih fokus pada kekuatan laba korporasi dan harapan meredanya konflik, yang untuk sementara cukup untuk mendorong Wall Street ke rekor baru. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News