P2P lending syariah ALAMI telah salurkan pinjaman Rp 200 milliar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyelenggara fintech peer to peer lending syariah PT Alami Fintek Sharia telah menyalurkan pinjaman senilai Rp 200 miliar hingga saat ini. CEO ALAMI Dima Djani menyatakan pencapaian tersebut didukung dengan faktor komunikasi yang fleksibel sehingga dapat menyesuaikan kebutuhan dan karakter masyarakat Indonesia.

Penyaluran pinjaman itu bersumber dari pemberi dana (funder) mencapai lebih dari 7.000 orang. Dima bilang pada periode pandemi Covid-19 ini ALAMI menerapkan seleksi yang ketat dan hati-hati terhadap beneficiary serta memilih dari sektor yang tidak terdampak langsung pandemi.

“Sehingga hingga saat ini ALAMI masih mencatatkan NPF (Non Performing Financing) sebesar 0% atau jika pada industri P2P financing menggunakan pengukuran TKB90 sebesar 100%. Guna terus memberikan pengalaman pendanaan yang mudah bagi masyarakat ALAMI akan meluncurkan versi mobile app dalam waktu dekat,” ujar Dima dalam keterangan tertulis yang Kontan.co.id terima pada Kamis (1/10).


Baca Juga: Bukan cuma Jiwasraya, PNM untuk BPUI juga dipakai memperkuat Askrindo dan Jamkrindo

Ia menyebut tujuan ALAMI jelas, masyarakat muslim Indonesia punya kebutuhan, keinginan, dan kemampuan untuk mengoptimalkan penetrasi layanan keuangan syariah. Sayangnya, bagi kalangan muslim muda, pamor instansi keuangan syariah masih jauh dari harapan. Kesan kaku, rumit, kuno jadi faktor penghambat majunya skema finansial yang justru sudah banyak diadopsi di negara-negara berpopulasi non-muslim.

“Oleh karena itu, kami memutuskan untuk bermitra dengan konsultan komunikasi yang mampu memberikan strategi komunikasi yang paling relevan dengan kondisi pasar saat itu. Hal ini tentunya dapat menarik perhatian para stakeholder,” tutur Dima.

Ia menyebut pada masa-masa awal dibangunnya ALAMI, perusahaan fokus pada pertumbuhan user dan membangun infrastruktur yang mumpuni. Namun, salah satu yang tidak pernah dilewatkan dalam perencanaan ALAMI adalah pentingnya membangun image perusahaan dan sosok leadership sejak awal. Dima meyakini, startup perlu menjadikan corporate communications sebagai strategi yang dibangun sejak awal.

“Menjadi beda saja tidak cukup untuk masuk dalam arena fintek yang sangat kompetitif, apalagi banyak isu pinjol dari fintek ilegal. Oleh karena itu, perlu strategi komunikasi yang komprehensif mulai dari public relations hingga digital marketing agar kampanye perusahaan dapat didengar dan dirasa oleh publik,” ujar Dima.

Baca Juga: Fintech lending dengan rasio pinjaman bermasalah di atas 8% dipanggil OJK, ada apa?

Dima juga mengungkapkan bahwa memupuk kepercayaan publik sangatlah penting oleh karena itu branding perusahaan perlu dijalankan sejak dini agar mampu memberikan pesan bahwa ALAMI punya komitmen jangka panjang untuk hadir dan melayani pasar muslim Indonesia.

Selanjutnya: OJK panggil fintech P2P lending dengan rasio pinjaman bermasalah di atas 8%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi