KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah tengah gencar menggelar proyek pengolahan sampah menjadi energi atau
Waste to Energy (WtE). Sejumlah pengusaha memandang proyek-proyek WtE berpeluang mengangkat prospek bisnis alat berat, dan siap ikut berkontribusi dalam pelaksanaan program tersebut. Ketua Umum Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) Yushi Sandidarma menilai proyek WtE berpotensi menjadi peluang baru bagi industri alat berat di Indonesia.
Secara volume, potensi permintaan dari proyek WtE tidak sebesar tambang atau infrastruktur jalan. Tetapi, proyek WtE bisa mendatangkan kebutuhan alat berat yang konsisten dan jangka panjang. Kebutuhan alat berat dari pelaksanaan proyek WtE mulai dari pembangunan fasilitas, pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), hingga operasi harian pengolahan sampah.
Baca Juga: Multicrane Perkasa Sebut Program Waste to Energy Bisa Angkat Industri Alat Berat "Berbeda dengan proyek konstruksi konvensional, WtE membutuhkan alat berat tidak hanya di awal, tetapi sepanjang siklus hidup proyek," kata Yushi kepada Kontan.co.id, Minggu (8/2/2026). Yushi menjelaskan, alat berat kategori
wheel loader, excavator, material
handler, hingga
landfill compactor bisa menjadi bagian dari operasi rutin fasilitas WtE. Hal ini membuka peluang baru bagi industri alat berat, terutama pada segmen
aftermarket, layanan purna jual (parts/service) serta kontrak berbasis ketersediaan alat (availability-based service). Ketua IV PAABI Immawan Priyambudi menambahkan, pengalaman proyek yang sudah berjalan seperti di Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo Surabaya, menunjukkan bahwa pengolahan sampah skala besar membutuhkan
excavator, wheel loader, material
handler, hingga
landfill compactor. Alat berat kategori tersebut dibutuhkan secara berkelanjutan, bukan hanya di fase awal proyek. "Bagi pelaku industri alat berat, WtE lebih tepat dilihat sebagai pembentuk segmen pasar baru yang stabil dan jangka panjang, bukan sekadar peluang penjualan satu kali. Dengan karakter proyek berbasis layanan publik dan relatif tidak terlalu cyclical, WtE berpotensi menjadi sumber pertumbuhan tambahan yang sehat, jika implementasinya di lakukan dengan konsisten," kata Immawan.
Baca Juga: Impor Izin Impor Solar Industri Dicabut, Alat Berat Tambang Terancam Krisis Pasokan? PAABI melihat arah kebijakan pemerintah saat ini semakin memperkuat prospek WtE. Penyederhanaan regulasi, penghapusan beban tipping fee daerah, serta rencana pengembangan puluhan fasilitas WtE nasional membuat proyek ini lebih realistis dan berkelanjutan secara finansial. "Kepastian ini penting karena industri alat berat sangat bergantung pada kepastian eksekusi proyek di lapangan. Kesimpulannya, WtE bukan pasar yang spektakuler dari sisi volume, tetapi strategis dari sisi kualitas. Membentuk segmen pasar baru yang relatif stabil, berbasis layanan publik, dan tidak terlalu siklikal," ujar Immawan. Salah satu perusahaan alat berat yang sedang melirik peluang dari proyek WtE adalah PT Multicrane Perkasa (MCP). Presiden Direktur Multicrane Perkasa, Adrianus Hadiwinata menilai, WtE memberikan peluang pengembangan pasar yang berfokus pada penyediaan rantai pasok penanganan limbah. Mulai dari
collection, sorting, transportasi, sistem
feeding, transfer, hingga dukungan operasional. Fasilitas WtE yang dirancang untuk beroperasi selama puluhan tahun menuntut dukungan alat berat yang stabil, andal, serta layanan purna jual yang konsisten sepanjang umur alat. "Dalam konteks ini, proyek WtE menjadi tolok ukur bagi perusahaan alat berat dalam membuktikan kemampuannya mendukung operasi jangka panjang, bukan hanya menyuplai unit di awal proyek," kata Adrianus kepada Kontan.co.id, Kamis (5/2/2026). MCP memiliki sejumlah lini produk yang bisa berkontribusi langsung dalam rantai pasok pengelolaan sampah, mulai dari tahap hulu hingga fasilitas pengolahan lanjutan seperti WtE dan Refuse-Derived Fuel (RDF).
Baca Juga: Kinerja HEXA Terkini: Tantangan Industri Hantam Laba, Simak Strateginya. Saat ini, MCP telah terlibat dalam pengembangan proyek RDF di Sukabumi bersama Cahaya Yasa Cipta (CYC), termasuk melalui penempatan dua unit Hiab untuk mendukung sistem feeding dan penanganan material. Hingga sekarang, CYC masih berfokus pada pengembangan RDF dan belum mengarah pada implementasi fasilitas WtE. Adapun, RDF di lokasi tersebut mulai berjalan sejak Juli 2025 dan masih berada dalam tahap penguatan operasional. MCP secara aktif mengikuti perkembangan kebijakan dan wacana nasional terkait pengembangan WtE di berbagai daerah. Ke depan, MCP membuka peluang untuk menjajaki kerja sama dan kontrak pada proyek-proyek pengelolaan sampah berbasis RDF maupun WtE. "Apabila ke depan terdapat perluasan lingkup proyek atau perubahan arah dari RDF menuju WtE, MCP siap memberikan dukungan melalui penyediaan peralatan, sistem feeding, serta solusi material handling yang sesuai dengan kebutuhan fasilitas WtE," tegas Adrianus. Sementara itu, PT United Tractors Tbk (UNTR) dan PT Intraco Penta Tbk (INTA) sejauh ini belum melirik proyek WtE sebagai pengembangan pasar alat berat. Corporate Secretary UNTR Ari Setiyawan sepakat bahwa proyek WtE akan mengangkat kebutuhan alat berat. Namun jumlahnya belum signifikan dan akan lebih berdampak terhadap alat berat tipe kecil.
Baca Juga: Antisipasi Pemangkasan RKAB Tambang, Permintaan Alat Berat 2026 akan Tumbuh Moderat Direktur INTA Willianto Febriansa juga menyatakan bahwa sejauh ini pihaknya belum menjajaki potensi permintaan alat berat dari proyek WtE.
"Sampai saat ini INTA tidak memiliki lini yang berkecimpung dalam bisnis ini, sehingga kami tidak bisa memberikan tanggapan," tandas Willianto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News