Pabrik di Jerman alami penurunan pesanan terbesar



BERLIN. Pesanan industri Jerman merosot dalam laju paling kencang sejak 2009. Kabar buruk ini muncul di tengah tekanan dari zona euro agar Jerman menambah investasi publik untuk mendorong laju ekonomi.

Data Kementerian Ekonomi Jerman menunjukkan, kontrak baru merosot 5,7% pada bulan Agustus 2014 dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini jauh lebih rendah ketimbang prediksi survei Reuters yang hanya meramal penurunan 2,5%.

Pesanan dari negara-negara di luar zona euro anjlok 9,9%. Sedangkan, pesanan dari negara-negara blok pengguna mata uang euro turun 5,7%. Pesanan domestik turun lebih kecil pada level 2%.


Carster Brzeski, ekonom Senior ING mengatakan, data terbaru ini jelas menjadi pertanda buruk hingga kuartal keempat ini. "Hal ini bukan hanya disebabkan oleh faktor Rusia, melainkan juga masih lemahnya ekonomi negara tetangga Jerman di zona euro," kata Brzeski.

Kementerian Ekonomi Jerman menyatakan, tingkat pesanan pabrik melemah akibat ekonomi zona euro yang juga menurun dan ketidakpastian berbagai krisis dunia, baik timur tengah atau Ukraina.

Produksi barang modal juga terhambat. Pesanan barang modal turun 8,5% pada bulan Agustus 2014 jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Produksi barang setengah jadi pun terganggu. Di sisi lain, pesanan barang konsumen malah naik 3,7%.

Christian Schulz, ekonom Senior Berenberg Bank di London mengatakan, risiko geopolitik, terutama di Ukraina Timur menyebabkan perusahaan-perusahaan lebih hati-hati dalam merealisasikan rencana investasi. "Saat ketidakpastian mereda, keyakinan bisnis dan investasi akan pulih," kata Schulz kepada Bloomberg.

Holder Sandte, Kepala Analis Eropa Nordea Markets menambahkan, outlook ekonomi Jerman kian menurun. "Saya tidak yakin ekonomi Jerman akan tumbuh di kuartal ketiga," ujar Sandte. Ekonomi Jerman tumbuh kuat di kuartal pertama dan kontraksi 0,2% pada kuartal kedua.

Sebelumnya, majalah Der Spiegel mengabarkan bahwa Dana Moneter Internasional akan memangkas prediksi ekonomi Jerman tahun ini dari 1,9% dan tahun depan dari 1,7% menjadi masing-masing 1,5%. Pemangkasan ini disebabkan oleh krisis di Ukraina dan Timur Tengah.

Editor: Hendra Gunawan