Pada 2017 aset asuransi syariah tembus Rp 40,52 triliun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aset industri asuransi syariah meningkat dobel digit di sepanjang tahun lalu. Kenaikan ini juga ditopang dari perolehan kontribusi alias premi dan investasi asuransi syariah.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sampai akhir Desember 2017, aset asuransi syariah baik jiwa maupun umum telah menyentuh Rp 40,52 triliun. Nominal itu naik 21,89% dibanding periode sama tahun 2016 sebesar Rp 33,24 triliun.

Kontribusi bruto pun ikut melonjak 16,35% ke posisi Rp 13,99 triliun dan investasi naik 22,58% menjadi Rp 35,31 triliun. Sementara akhir 2016 lalu investasi yang dikelola asuransi syariah baru menyentuh Rp 28,81 triliun.


Namun, hasil investasi masih mencetak kinerja minus yakni turun 5,22% jadi Rp 2,35 triliun sampai akhir Desember 2017.

Direktur Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah OJK Mochammad Muchlasin menjelaskan, di tahun ini tren aset industri asuransi syariah masih bisa tumbuh positif namun masih di bawah angka realisasi tahun lalu.

"Kami proyeksi kenaikan 15%, di bawah tahun lalu karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus ditingkatkan," ujar Muchlasin akhir pekan lalu.

Apalagi asuransi syariah masih terkendala sejumlah tantangan semisal kapasitas permodalan juga variasi produk yang ada. Hal tersebut akan menjadi perhatian besar bagi pelaku guna meningkatkan pangsa pasar.

Hingga akhir tahun 2017, penetrasi asuransi syariah juga masih sangat rendah yakni sebesar 0,104% dengan total populasi penduduk yang mencapai 262 juta jiwa.

Namun, Muchlasin masih optimistis potensi pasar asuransi syariah masih sangat luas. Pelaku juga bisa memanfaatkan dari jumlah mayoritas muslim di Indonesia yang bisa menjadi ceruk pasar. Seperti misalnya, dari total penduduk tersebut sekitar 87% muslim. Ini potensi yang bisa digarap.

Ke depan, dengan berbagai tantangan yang menghadang industri asuransi syariah memerlukan beberapa strategi khusus untuk menanggulanginya. Persiapan dan kesediaan sumber daya yang andal, inovasi produk dan penanggulangan teknologi adalah hal utama yang wajib menjadi perhatian bagi seluruh pelaku industri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Rizki Caturini