KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membidik potensi penerimaan pajak yang selama ini belum terdeteksi melalui pemanfaatan kecerdasan buatan atau
artificial intelligence (AI). Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi sistem
Indonesia National Single Window (INSW) yang dikelola Lembaga
National Single Window (LNSW). Pemerintah akan memanfaatkan AI untuk mengolah sekaligus menganalisis berbagai data yang tersimpan dalam sistem tersebut.
Baca Juga: Kendati Mulai Membaik, Ekspektasi Konsumen Terhadap Kegiatan Usaha Makin Lemah Purbaya mengatakan, sistem INSW menyimpan data dalam jumlah besar, terutama terkait berbagai pengajuan perizinan dalam kegiatan ekspor dan impor. Namun, sebelumnya data tersebut belum sepenuhnya terintegrasi sehingga analisis belum dapat dilakukan secara optimal. "Jadi kita kembangkan di sini aplikasi menggunakan AI juga. Untuk membantu para analis kita melihat potensi pendapatan yang mungkin diperoleh dengan perbaikan sistem," kata Purbaya dalam keterangannya, Kamis (10/9). Menurut Purbaya, pemanfaatan AI akan membantu para analis membaca data dalam jumlah besar dan menemukan potensi penerimaan negara yang sebelumnya mungkin belum terlihat. Pemerintah juga akan mengintegrasikan berbagai data yang tersedia dalam sistem INSW. Dengan integrasi tersebut, berbagai potensi pajak maupun penerimaan negara lainnya diharapkan dapat terdeteksi sejak awal.
Pajak Perusahaan Bakal Dipetakan Tak berhenti pada deteksi potensi penerimaan, Purbaya mengarahkan agar sistem tersebut mampu memperkirakan potensi kewajiban penerimaan negara dari setiap perusahaan. Potensi pembayaran tersebut nantinya dapat dibandingkan dengan dokumen terkait, seperti Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT), dokumen pembayaran royalti, dan dokumen lainnya. Dengan demikian, pemerintah dapat melihat apakah terdapat selisih antara potensi kewajiban pajak berdasarkan aktivitas ekonomi perusahaan dengan kewajiban yang dilaporkan. "Untuk betul-betul ke depan setiap perusahaan terdeteksi berapa potensi pembayaran kewajibannya yang kurang," ujar Purbaya. Purbaya juga menekankan pentingnya kemampuan sistem untuk melakukan analisis terhadap data beberapa tahun sebelumnya. Artinya, pemerintah tidak hanya memantau transaksi yang sedang berlangsung, tetapi juga dapat menelusuri aktivitas ekonomi pada periode sebelumnya. "Kegiatan seperti ini kan bisa beberapa tahun ke belakang. Kalau setahun lalu kan bisa kelihatan semua. Ke depan nggak ada yang bisa main-main lagi," katanya. Ia menegaskan pemerintah akan menggunakan data yang lebih terintegrasi untuk memonitor aktivitas perusahaan secara lebih teliti. Pengembangan sistem INSW tersebut akan menggabungkan AI dengan big data. Seluruh data yang tersedia akan dimanfaatkan secara terintegrasi untuk meningkatkan kemampuan analisis pemerintah. "Kita pakai semua data yang ada secara integrasi. Dengan memanfaatkan AI, big data," kata Purbaya.
Purbaya mengatakan sistem tersebut masih akan terus disempurnakan sesuai kebutuhan pengguna. Selain untuk memonitor potensi penerimaan ke depan, pemerintah juga membuka peluang melakukan penelusuran atau
trackback terhadap aktivitas ekonomi pada periode sebelumnya.
Baca Juga: Ekspektasi Penghasilan Konsumen Membaik, tetapi Masih di Bawah Awal 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News