Pakar Medis China Menyebut Covid-19 Sudah Bermutasi dan Harus Berganti Nama



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Otoritas pengobatan tradisional terkemuka di China melihat bahwa saat ini Covid-19 sudah bermutasi terlalu jauh. Atas dasar itu, pemerintah China harus segera mengganti nama penyakit tersebut.

Gu Xiaohong, ketua Asosiasi Pengobatan Cina, pada hari Rabu (7/12) mengatakan bahwa nama China untuk virus corona, yang mengidentifikasinya sebagai penyakit penyebab pneumonia, harus diubah menjadi sekadar virus menular.

Dilansir dari Reuters, Gu mengatakan asosiasinya telah mencapai konsensus untuk mengubah cara mereka menggambarkan virus.


Baca Juga: China Berikan Izin Penggunaan Darurat Vaksin Covid-19 Metode Semprot

"China harus mengubah nama resminya untuk Covid-19 untuk mencerminkan mutasi virus, dan pasien dengan gejala ringan harus diizinkan untuk dikarantina di rumah," ungkap Gu.

Pernyataan Gu ini keluar ketika China mulai melonggarkan beberapa pembatasan terkait penyebaran Covid-19. Aturan pembatasan aktivitas di China dianggap jadi salah satu yang paling berat di dunia.

Saat ini pendekatan China terhadap Covid-19 dinilai sudah harus berubah dari deteksi pasif menjadi pencegahan aktif dengan pemulihan di rumah untuk kasus ringan.

Baca Juga: China Bersiap Cabut Kebijakan Nol-COVID 19, Ini Indikasinya

Sebelumnya, pemerintah China menerapkan pengujian yang sagat luas. Semua orang yang mendapat hasil positif terhadap Covid-19 pun harus dikarantina di fasilitas khusus.

Banyak yang berharap bahwa langkah tersebut bisa membawa China ke situasi normal, setidaknya lebih normal dibandingkan tiga tahun terakhir yang sangat tertutup.

Saat ini pemerintah China mulai berani menghadapi Covid-19. Kantor berita resmi China, Xinhua, pada hari Senin (5/12) menyampaikan bahwa periode sulit telah berlalu.

Pernyataan tersebut mengacu pada data yang menunjukkan melemahnya patogenisitas virus dan upaya untuk memvaksinasi 90% populasi