KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pakistan meningkatkan upaya diplomatik untuk mempercepat proses perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran pasar energi global. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan masih membuka peluang kesepakatan, namun tidak menutup opsi tindakan militer jika tidak ada “jawaban yang tepat” dari Teheran.
Upaya Diplomasi Pakistan di Tengah Kebuntuan Negosiasi
Menurut sejumlah sumber yang mengetahui proses perundingan, Pakistan kini berupaya mempercepat komunikasi antara kedua pihak. Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, disebut menjadi figur kunci dalam misi mediasi ini, bahkan mempertimbangkan kunjungan ke Teheran.
Pemerintah Pakistan sebelumnya juga telah mengirimkan Menteri Dalam Negeri ke Iran untuk membahas perkembangan terkini. Islamabad disebut aktif menjembatani komunikasi dengan berbagai kelompok di Iran guna memperlancar proses negosiasi yang saat ini berjalan lambat.
Baca Juga: Kebijakan Baru Ekspor Indonesia Tekan Harga Nikel Global Trump: “Kesabaran Kami Menipis”
Dalam pernyataannya di Joint Base Andrews, Donald Trump menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menunggu terlalu lama untuk respons dari Iran. “Jika kami tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya bisa terjadi sangat cepat. Kami siap,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa keputusan dapat diambil dalam hitungan hari. Trump juga kembali menegaskan sikap kerasnya terhadap program nuklir Iran, dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.
Iran Tegaskan Sikap Keras dan Peringatan Balasan
Di sisi lain, Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps) memperingatkan bahwa serangan ulang terhadap wilayahnya dapat memicu eskalasi konflik regional yang lebih luas. Iran juga telah mengajukan proposal terbaru kepada Amerika Serikat, meski laporan menyebutkan bahwa sebagian besar usulan tersebut masih mengulang tuntutan lama, termasuk pelonggaran sanksi, akses aset beku, serta pengaturan jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Selat Hormuz dan Krisis Energi Global
Ketegangan di kawasan turut berdampak pada jalur perdagangan energi global. Selar Hormuz yang sebelumnya menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia mengalami gangguan signifikan sejak konflik meningkat. Iran bahkan mengumumkan zona maritim “terkendali” di wilayah tersebut, yang mengharuskan kapal memperoleh izin khusus untuk melintas. Langkah ini memicu kekhawatiran baru di pasar energi global, terutama terkait potensi biaya akses tambahan bagi kapal asing. Meski demikian, laporan menunjukkan aktivitas pelayaran mulai kembali terbatas. Sejumlah kapal tanker, termasuk dari Tiongkok dan Korea Selatan, dilaporkan tetap melintas dengan koordinasi tertentu.
Baca Juga: Iran Bangun Kembali Industri Pertahanan Lebih Cepat dari Perkiraan Dampak Global dan Tekanan Politik Domestik AS
Kenaikan harga minyak akibat konflik ini turut memicu kekhawatiran inflasi global. Di Amerika Serikat, tekanan politik terhadap Donald Trump juga meningkat menjelang pemilu paruh waktu, seiring turunnya tingkat persetujuan publik akibat lonjakan harga bahan bakar. Sementara itu, Israel di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu bersama Amerika Serikat sebelumnya menyatakan tujuan operasi militer adalah untuk menekan jaringan milisi Iran, menghentikan program nuklir, serta melemahkan kemampuan rudal Teheran.
Situasi Masih Rapuh
Meski gencatan senjata telah berlangsung sekitar enam minggu, kemajuan menuju kesepakatan damai masih terbatas. Iran dilaporkan tetap mempertahankan stok uranium yang telah diperkaya mendekati tingkat senjata, sementara aktivitas produksi drone juga dilaporkan kembali berjalan selama masa gencatan. Dengan kondisi yang masih sangat dinamis, prospek kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran tetap tidak pasti, sementara risiko eskalasi militer di kawasan masih terbuka lebar.