Pakistan Kerahkan Jet Tempur Kawal Negosiator Iran Usai Pembicaraan dengan AS



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pakistan dilaporkan mengerahkan puluhan jet tempur untuk mengawal delegasi Iran pulang setelah pembicaraan damai dengan Amerika Serikat di Islamabad berakhir tanpa hasil.

Menurut sumber Reuters, angkatan udara Pakistan mengerahkan sekitar dua lusin pesawat tempur, termasuk sistem pengawasan udara Airborne Warning and Control System (AWACS), guna memastikan keamanan rombongan Iran saat kembali dari Islamabad menuju wilayah Iran.

Langkah pengamanan besar ini dilakukan setelah delegasi Iran menyampaikan kekhawatiran bahwa mereka berpotensi menjadi target serangan Israel selama perjalanan pulang.


Salah satu sumber keamanan Pakistan menyebut bahwa perlindungan serupa dapat kembali diberikan pada putaran negosiasi berikutnya jika diminta oleh pihak Iran. Jika tidak, pesawat Pakistan setidaknya akan melakukan pengawalan ketika delegasi memasuki wilayah udara Pakistan.

Baca Juga: Paus Leo XIV Bikin Geger di Kunjungan ke Afrika, Begini Isi Pidato Kontroversialnya

Kekhawatiran Ancaman Israel

Sumber diplomatik regional yang mendapat penjelasan dari Teheran mengatakan Pakistan memutuskan memberikan pengawalan setelah delegasi Iran mengangkat kemungkinan ancaman secara hipotetis.

Delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi dan Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf.

Menurut sumber keamanan, setelah pembicaraan gagal mencapai kesepakatan, delegasi Iran merasa situasi menjadi semakin berisiko.

“Mereka mencurigai bisa menjadi target,” ujar salah satu sumber keamanan.

Sumber lain yang terlibat dalam pembicaraan menyebut bahwa Pakistan bertanggung jawab penuh atas keamanan delegasi Iran, bahkan setelah mereka meninggalkan wilayah negara tersebut.

“Kami mengawal mereka sampai ke Teheran. Keamanan mereka menjadi tanggung jawab kami bahkan setelah mereka tidak lagi berada di sini,” ujarnya.

Pakistan Gunakan Jet Tempur J-10

Misi pengawalan menuju Iran pada Minggu disebut melibatkan pesawat tempur J-10 buatan China, yang merupakan salah satu armada utama angkatan udara Pakistan.

Operasi tersebut dinilai jauh melampaui protokol normal diplomatik, mengingat tingginya risiko keamanan yang dirasakan oleh delegasi Iran.

Sumber keamanan menyebut bahwa tanggung jawab pengawalan ini sangat besar karena Pakistan harus menyediakan perlindungan udara penuh terhadap setiap potensi ancaman.

Baca Juga: Harga Minyak Turun, Harapan Damai AS-Iran Dongkrak Optimisme Pasar

Israel Diduga Masukkan Tokoh Iran dalam Daftar Target

Menurut sumber Reuters, Israel sebelumnya memasukkan Abbas Araqchi dan Mohammad Baqer Qalibaf dalam daftar target serangan.

Namun, Pakistan disebut meminta Washington turun tangan agar kedua tokoh itu dihapus dari daftar tersebut karena mereka dianggap penting dalam proses negosiasi terkait perang yang dimulai pada 28 Februari lalu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bulan lalu sempat menyatakan bahwa ia tidak akan memberikan “jaminan hidup” kepada para pemimpin organisasi yang dianggap sebagai ancaman oleh Israel.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pekan lalu sempat mengunggah peringatan di media sosial bahwa “sebuah peradaban utuh bisa mati malam ini”.

Meski pembicaraan damai berakhir tanpa kesepakatan, sumber Reuters menyebut dialog antara Iran dan AS masih terbuka. Trump pada Kamis juga menyatakan perang “seharusnya segera berakhir” dan membuka kemungkinan pembicaraan lanjutan di Islamabad akhir pekan ini.